Pesan Bermakna MPLS Blitar

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) 2019/2020 hari keempat dilakukan dengan menapak tilas ke Blitar. Pukul 05.00 WIB, siswa baru SMANAS sudah berkumpul di Alun-alun Kota Malang. Pukul 06.30 WIB Kamis (19/7) pagi itu, mereka berbaris rapi berjalan kaki menuju Stasiun Kota Baru Malang di damping pengurus OSIS-MPK dan bapak-ibu guru. Rombongan SMANAS memenuhi tiga gerbong kereta Penataran.

Di dalam kereta, waktu perjalanan menuju Blitar diisi dengan menyanyi bersama. Tidak sedikit pula siswa yang sarapan, memakan bekal yang dibawa dari rumah. Selain itu, antusiasme siswa meningkat ketika ada kuis. Setiap guru memberikan pertanyaan, siswa berebut untuk menjawab pertanyaan tersebut. Kemudian, siswa yang mampu menjawab dapat memperoleh hadiah.

Pukul 09.30 WIB, rombongan MPLS SMANAS tiba di Blitar. Mereka kembali berbaris rapi dan berjalan kaki menuju Alun-alun Kota Blitar. Setelah foto bersama di depan alun-alun, rombongan duduk melingkar dan membuka bekal masing-masing.

Di Alun-alun Kota Blitar, para peserta MPLS ditugasi untuk latihan yel dan menampilkannya di depan seluruh hadirin. Masing-masing kelompok menunjukkan kreativitas dan usaha maksimal mereka untuk memenangkan hati juri. Keceriaan dan kekompakan terpancar di semua tempat. Jargon-jargon pembangkit semangat berkali-kali diteriakkan.

Napak Tilas Sang Proklamator

Selesai bertarung yel, siswa baru SMANAS berbaris membentuk kotak, kemudian berjalan kaki lagi menuju Istana Gebang. Usai istirahat sejenak, para siswa berkumpul menuju museum untuk melaksanakan tugas wawasan kebangsaan. Setelah diberi leaflet yang berkaitan tentang sejarah Bapak Proklamator Indonesia beserta benda pusaka, seluruh siswa mulai berkeliling ruangan di rumah Soekarno dipandu oleh pemandu. “Rumah ini adalah rumah masa muda Bung Karno yang memiliki beberapa ruangan yaitu dua ruang kamar untuk tamu, beserta satu kamar pribadi beliau,” terang sang pemandu. Sembari mencari informasi terkait tugas yang diberikan, beberapa siswa berfoto dengan gambar Soekarno dan benda-benda pusaka.

Setelah agenda di Istana Gebang selesai, rombongan kembali berbaris, berjalan kaki menuju tujuan terakhir, yaitu Kebon Rojo. Di sana, rombongan melakukan makan bersama. Setelah stamina terisi, semangat peserta meningkat dengan adanya kuis. Pak Mustafa mengawali kuis dengan password yang membuat para siswa tertawa. Para siswa angkat tangan dan berebut maju untuk memenangkan hadiah.

Selesai bermain kuis, OSIS-MPK mengajak siswa untuk outbound. Mereka menginstruksikan pada masing-masing kelompok untuk mencari bendera sebanyak-banyaknya sesuai dengan warna yang telah ditentukan. Kemudian, dilanjutkan dengan game karung. Dalam game ini, perwakilan kelompok diminta untuk mengambil karung secepat mungkin. Tugas berikutnya yaitu seluruh anggota kelompok harus bisa berdiri di atas karung tersebut, berapa pun anggota kelompoknya. “Games ini akan menguji kekompakan dan kecerdasan kalian menentukan strategi,” tutur Fita Mundi mengarahkan peserta. Semua kelompok bersaing menaklukkan tantangan. Seketika Kebon Rojo menjadi gempar karena suara para siswa yang berteriak memberi arahan pada tim juga gelak tawa karena tindakan-tindakan tak terduga. Beberapa siswa menggendong teman tim agar seluruh anggota tertampung di atas satu karung.

Setelah ditentukan juaranya, pukul 16.30 WIB, rombongan SMANAS berkemas untuk berjalan kaki lagi menuju Stasiun Kota Blitar, kemudian naik kereta lagi menuju Malang. Di perjalanan menuju Malang, tidak sedikit siswa yang tertawa menikmati lagu dan bernyanyi bersama diiringi gitar, bahkan berjoget ria. Beberapa siswa juga saling berbagi minuman dan makanan ringan.

Penguatan Semangat Meraih Sukses

Tiba di sekolah, siswa baru, OSIS-MPK, dan guru makan bersama di tengah lapangan. Kemudian, mereka bersih diri dan tidur. Pukul 02.30 dini hari, peserta MPLS dibangunkan untuk melaksanakan renungan malam. Kemudian, seluruh siswa berkumpul di lapangan dan berbaris membentuk sebuah lingkaran. Dipimpin oleh Pak Gilang, siswa diberikan instruksi hipnosis untuk merasakan bahwa tangan kiri mereka menjadi lebih panjang dibandingkan tangan kanan. “Sekarang kalian pikirkan, apakah anatomi tubuh kalian akan menjadi lebih panjang hanya dalam waktu 5 menit saja?” tanya Pak Gilang kepada seluruh siswa baru. Beliau menegaskan bahwa hal tersebut berkaitan dengan keyakinan diri kita karena kuncinya adalah yakin. “Yakin pasti sukses,” kata beliau berulang-ulang.

Senada dengan Pak Gilang, Pak Rusdi juga melanjutkan motivasi bahwa seluruh siswa SMANAS harus yakin kepada Tuhan bahwa pasti bisa sukses. “Percaya kepada Tuhan bahwa Tuhan tidak pernah mengalami kesulitan untuk mengubah sesuatu,” tegas Ketua MKKS se-Kota Malang ini. Pak Rusdi juga mengimbau kepada seluruh siswa untuk selalu mematuhi kedua orang tua tanpa harus membantah apapun yang dikatakan oleh orang tua mereka. Air mata tak terelakkan lagi mengalir dari mata para siswa beserta seluruh anggota OSIS-MPK. Di lapangan yang masih gelap, suara isak tangis terdengar dari beberapa penjuru. Untuk menguatkan para siswa, Kepala SMANAS mengajak siswa untuk mendoakan orang tua mereka.

Setelah doa, para siswa diatur posisinya sehingga menghadap kayu bakar, lalu menyanyi Bagimu Negeri dan Mars SMANAS. Diiringi lagu dan petikan gitar, dua bola api diluncurkan oleh pengurus OSIS-MPK dari lantai dua, dan jatuh tepat di kayu bakar sehingga api unggun menyala, semakin lama api makin berkobar. Kuis terakhir masih dibuka dengan diiringi lagu. Para siswa menyanyi bersama.Para pemenang lomba diumumkan, lalu apel penutupan dilakukan.

Dalam sambutan penutupan, Pak Rusdi menegaskan lagi pada siswa bahwa beliau ingin tiga tahun mendatang dapat bertemu orang tua mereka dan menyampaikan kabar bahagia. Selain itu, beliau menjelaskan, SMANAS bisa besar juga karena totalitas dari para guru. Guru-guru rela berkotor-kotor bahkan tiduran di tanah karena ingin memberi contoh dan mengantarkan kesuksesan siswa. “Bahkan guru dan kepala sekolah juga rela ikut berjalan kaki jauh meski ada sedikit insiden karena kami ingin mengantarkan kalian menuju kesuksesan,” terang Pak Rusdi.

Serangkaian perjalanan MPLS membuat Bu Mardiah Isnianah terkesan. Guru baru di SMANAS lebih terkesan lagi karena MPLS hari keempat naik kereta. Menurut Bu Iis, acaranya sangat seru. “Karena di sini melibatkan seluruh guru, jadi lebih berkesan,” tutur guru Ekonomi tersebut. Pendapat yang sama datang dari Lidya. Salah satu peserta MPLS ini mengaku senang karena bisa bersama berjalan kaki meskipun melelahkan. “Saya paling suka di Kebon Rojo karena langsung berinteraksi dengan alam,” kata peserta kelompok 5 ini. (bya/hm)

Baca Juga:

Share this post

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print
Share on email

Berita Terkait

This Post Has One Comment

  1. Capek tentu iya, tapi diwajah mereka terlihat senang, ceria, saling peduli, dan kompak
    Bravo smanas

Tinggalkan Balasan

Close Menu
%d blogger menyukai ini: