Prahara di Ujung Senja

Oleh Avenica Purwa L.

Malam minggu yang cerah di bawah selimut dingin yang mencekat menusuk tulang membekukan rasa yang ada. Lindi seorang gadis ceria yang menyimpan sejuta masalah, memilih untuk diam dan menangis setiap malam. Menurutnya diam adalah pilihan terbaik ketika dia dirundung suatu masalah. Dia tak sadar bahwa ada bidadari yang menunggunya untuk bercerita tentang suatu masalah yang tengah dihadapinya. Lindi seperti berada dalam ruang gelap, hampa, tanpa ada seseorang pun yang menemaninya. Lindi merasa ini hanyalah mimpi yang bisa pergi ketika dia terbangun. Namun, itu tak benar. Dia mencoba untuk bangun, namun tak bisa

“Ayo, Lindi, bangunlah! Sudah waktunya untuk bangun. Ini menyeramkan, Lindi, ayo cepat bangun!” Seperti itulah kata yang diucapkan Lindi kepada dirinya pada saat itu. Namun, dia tak kunjung bangun dari mimpi buruknya itu. Lindi pun menangis dan Lindi mendengar ada suara lirih yang memanggilnya.

“Nak, bangun, Nak! Lindi, ayo bangun! Sudah pagi, ayo bangun, sayang!” Suara itu seperti suara bidadari yang selalu membangunkan Lindi dari mimpi buruknya itu. Iya! Itu suara Ibunya. Dia selalu berhasil membangunkan Lindi dari sekelebat mimpi buruk itu. Lindi pun terbangun. Dia tak menyadari ketika dia menangis dalam mimpinya, dalam nyatanya dirinya juga menangis. Kalian bisa merasakan bagaimana Lindi menahan rasa pedihnya, sampai terbawa dalam mimpi buruk setiap harinya.

“Lindi, kamu menangis? Kenapa?” tanya sang ibu.

“Emmm tidak, Bu. Lindi tidak menangis. Mungkin ini efek bangun tidur hehe,” jawab Lindi sembari tertawa.

“Ohh, begitu. Ya sudah, cepat mandi!” kata ibu.

“Hmm..,” kata Lindi dengan nada malas, kemudian Lindi pergi menuju tempat yang paling enggan dia datangi, kamar mandi. Di kamar mandi, seperti biasa Lindi menghabiskan waktu mengumpulkan niat untuk bersentuhan dengan air di depannya itu. Ya, apa kalian tahu? Air yang ada di depan Lindi seakan-akan mengajak Lindi untuk bergaduh dan berniat mengurungkan Lindi untuk mandi di pagi itu.

***

Lindi mengawali pagi dengan berdiri di teras rumahnya, membiarkan udara dingin masuk dalam pori-pori tubuhnya. Dia menghirup dalam-dalam udara dingin itu dan merasakan ketenangan sesaat, yang kemudian mengingatkannya akan masalah yang belum terselesaikan di hari kemarin. Namun, Lindi selalu menampakkan wajah ceria pada keluarganya, karena dia tahu masalahnya tidak bersumber dari sana, dan mereka tak pantas mendapatkan imbasnya.

“Lindi! Pagi-pagi jangan di luar! Dingin! Cepat masuk saja!” suara keras yang menyuruh Lindi untuk masuk ke rumah. Itu suara ayahnya.

“Ayah, ini tidak dingin. Lindi sudah terbiasa dengan rasa yang seperti ini! Hahaha,” teriak Lindi dari luar.

“Sudah terbiasa?” tanya ayahnya sembari mendekati Lindi.

“Iya. Ayah tahu tidak, ada yang lebih dingin dari ini?” tanya Lindi.

“Apa? Es batu?” kata ayah Lindi.

“Hahahaha bukan. Ayah pingin tahu?” kata Lindi.

“Iya, apa?” tanya ayahnya.

“Yang lebih dingin dari ini, ya sikapnya dia terhadapku akhir-akhir ini, Yah. Eeeaa hahaha,” kata Lindi sembari tertawa.

“Hmm dasar!” seru ayahnya.

***

Hari semakin siang, masalah Lindi pun semakin jelas di hapadan dirinya. Dia semakin terganggu karenanya, dan dia berpikir akan menceritakan masalahnya pada teman terdekatnya.

“Aku akan cerita pada temanku, mungkin saja dia bisa membantuku menyelesaikan masalahku,” kata hati Lindi saat itu. Namun, ada yang menahannya, seperti ada yang berbisik padanya, “Kamu menceritakan masalahmu kepada temanmu? Apa temanmu juga tak mempunyai masalah? Mungkin saja temanmu tengah menghadapi masalah yang lebih berat darimu! Apa kamu tak memikirkan dia bahwa dia akan semakin berpikir berat?” Kalimat-kalimat itu yang selalu terngiang dalam pikiran Lindi ketika dia hendak bercerita pada temannya. Kemudian ia mengurungkan niatnya itu.

Hari semakin sore. Matahari pun beranjak pergi, Lindi merasa mimpi buruknya akan datang kembali. Senja pun datang menemani dan membuat masalah Lindi semakin lekat dalam sanubari. Dia tak kuat menahannya lagi. Dia lari ke dalam kamar seorang diri, meluapkan semua rasa yang dirasakannya hari ini. Dia membuka tirai kamarnya untuk melihat sang senja yang mampir sebelum mimpi buruknya kembali tiba. Lindi tak sadar bahwa kelopak matanya sudah tak bisa menahan air yang sedari pagi ingin dia keluarkan. Dia menangis sendirian. Dia merasakan bagaimana kejamnya kesendirian, jahatnya kesunyian, dan dampak dari tak ingin berbaginya. Lindi juga tak menyadari bahwa ada dua mata yang sedari awal memperhatikan dirinya. Ada dua tangan yang sedari awal ingin merangkulnya dan menariknya dari kubangan masalahnya. Dia datang.

“Lindi, kamu menangis, Nak? Kenapa lagi, Nak?” tanya ibu Lindi.

“Emmm enggak, aku nggak nangis, siapa yang nangis?” kata Lindi sedikit terkejut akan kedatangan ibunya.

“Sudah ibu duga, kamu akan menjawab seperti itu lagi,” kata ibu Lindi sembari mendekati Lindi.

“Laahh beneran, Bu, Lindi enggak nangis! Memang ibu pernah lihat Lindi nangis?” tanya Lindi kepada ibunya sembari mengukir senyum di bibirnya.

“Bukan pernah lagi, Lin! Setiap hari ibu melihatnya, dan kamu tak mau bercerita masalahmu pada perempuan yang selalu menunggumu ini?” kata ibunya.

“Enggak! Lindi loh nggak pernah nangis,” elak Lindi.

“Kamu tidak bisa berbohong pada ibumu sendiri, walaupun kamu menunjukkan wajah baik-baik sajamu kepada ibu, ibu sebenarnya tahu kamu sedang tidak baik baik saja. Senyummu! Senyum yang terukir diwajahmu itu adalah kebohongan terbesar yang kamu lakukan pada ibumu ini! Kamu akan hancur sendiri, Nak, jika tak mau berbagi,” kata ibunya meninggikan suaranya. Ketika itu pun Lindi sudah tak dapat berpura pura lagi. Lindi menangis dan berpaling dari ibunya itu.

“Lindi! Lindi bodoh, Ibu! Lindi tak bisa menyelesaikan masalah Lindi sendiri! Lindi selalu merepotkan orang lain, baik teman dan sahabat Lindi! Dan sekarang Lindi membuat Ibu seperti ini, Lindi tak bermaksud, Ibu, namun memang benar yang Ibu katakan, Lindi hancur, Bu! Hancur!” kata Lindi sembari menangis.

“Lindi belum hancur! Coba ceritakan apa masalah Lindi pada ibu!” kata ibunya sembari memeluk tubuh Lindi yang lemas dan terdengar isak tangis dari ibunya itu. Lindi pun menceritakan semua masalah yang dialaminya. Dan dia terhenti ketika sang senja mulai pergi.

“Ibu, mimpi buruk itu akan datang lagi. Lindi untuk kesekian kalinya lari dari masalah lagi, Ibu. Ketakutan Lindi datang lagi,” kata Lindi sambil terisak, karena Lindi tahu malam akan datang, kesunyian akan menyelimuti dirinya. Kesunyian itu biasanya membuat Lindi tenang, namun untuk sekarang Lindi takut dengan kesunyiannya itu.

“Tidak! Kamu tidak akan bermimpi buruk lagi! Mimpi buruk itu datang ketika kau menyimpan masalahmu dalam hati dan tak mau berbagi. Kau terbebani namun kau tak ingin membaginya. Ibu tahu kau jarang membaginya dengan temanmu karena kamu memikirkan temanmu juga. Tetapi itu bukan alasan untuk kau simpan. Kau punya ibu, Nak, seseorang yang mampu menampung semua masalah yang sedang kau hadapi itu. Ibu ikut hancur ketika kau hancur. Ibu merasa sakit ketika kau sakit. Jangan begini lagi, Lindi. Kau boleh berteman dengan kesunyian, namun kau harus tahu kesunyian bisa membunuhmu kapan saja!” kata Ibu Lindi untuk menyadarkan anaknya yang berhati batu ini. Iya Lindi seperti batu yang selalu karam, dia tak bisa menjadi air yang selalu mengikuti wadahnya. Mungkin dengan begitu Lindi bisa sadar bahwa berbagi adalah hal yang membuat dirinya menjadi lebih baik. Bersama perginya senja, masalah Lindi pun pergi beriringan dengannya. Lindi merasa lega dapat bercerita. Semoga dia akan selalu berbagi masalahnya sekecil apa pun itu.

Baca juga …

Share this post

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print
Share on email

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Close Menu