Terselip Duka dalam Doa, Gadis Asal Kucur Mantap Menuju Pulau Madura

Novi Anggraeni, seorang gadis asal Kucur yang kalem dan lembut. Namun, di balik itu semua sebenarnya dia adalah tipe yang cuek, pemalu, dan tidak peka terhadap sekitarnya. Akan tetapi, karakter tersebut berangsur-angsur mulai memudar setelah ditempa selama kurang lebih tiga tahun di SMA Nasional Malang. “Teman-teman serta lingkungan yang berhasil mengubah karakter saya untuk lebih peduli sekitar dan berani bicara di depan orang banyak,” ungkap alumnus MTs Wahid Hasyim 02 Dau tersebut.

            Dilahirkan sebagai anak tunggal dari pasangan Bapak Samsuri dan Ibu Suliani, Novi merasa sangat bersyukur karena semua perhatian dari orang tua tercurahkan kepadanya. “Sebenarnya ibu saya sempat hamil anak kembar sebelum saya, namun keduanya meninggal dunia saat dalam kandungan usia enam bulan. Itulah yang membuat saya menjadi anak tunggal dalam keluarga,” tutur pencinta warna nute tersebut. Di sisi lain, sang ayah yang bekerja sebagai kuli bangunan, diikuti sang ibu yang merupakan buruh pabrik membuat Novi kerap merasa kesepian ketika berada di rumah sendiri sembari menunggu kedua orang tuanya pulang bekerja.

            “Watak kedua orang tua saya bukanlah tipe orang tua yang terlalu keras dalam mendidik, namun juga tidak terlalu memanjakan saya sebagai anak tunggal,” ungkap siswi kelahiran Malang, 11 Mei 2001 tersebut. Seluruh biaya sekolah Novi dapat diatasi dengan cukup baik dan stabil oleh jerih payah kedua orang tuanya. “Hanya saja pernah ayah saya mencari pinjaman untuk membayar uang gedung,” pungkasnya.

            Dalam hal kedekatan, Novi mengaku bahwa dia cenderung lebih nyaman untuk berbagi dengan sang ibu. “Saya sangat senang berbagi cerita kepada ibu, misalnya tentang kejadian di sekolah dan lainnya,” tutur pencinta film bergenre komedi ini. Di sisi lain, dalam hal pengambilan keputusan, sang ayah yang memiliki peran penting. “Ketika ayah menentang keinginan saya, biasanya memang perlu untuk pintar mencari momen untuk berbicara baik-baik dengan beliau,” tegasnya.

Perjalanan Gadis Asal Kucur dalam Bidang Akademik dan Nonakademik

Dalam hal akademik, Novi merupakan sosok yang sangat tekun dalam belajar. Bahkan sedari dia masih SD, penggemar penyanyi Isyana Sarasvati ini selalu berhasil menembus jajaran Top 10. “Peringkat saya saat SD adalah di posisi lima atau enam, sedangkan saat SMP sempat keluar dari 10 besar karena saingannya berat di kelas unggulan,” jelas siswi yang menyukai teh lemon ini.

            Novi menyatakan bahwa dia adalah tipe score-oriented, namun pernah kebablasan bersantai hingga nilainya terjun bebas. “Di SMANAS, Alhamdulillah saya selalu konsisten mendapatkan peringkat di posisi tiga. Namun, saat kelas XI sempat terjun bebas ke posisi enam karena terlalu saya bawa santai,” ujar siswi yang pernah aktif di OSIS MTs Wahid Hasyim 02 tersebut. Tak lama bagi Novi untuk memulihkan keadaan, dia langsung terbangun dari mimpi panjangnya dan berhasil menstabilkan posisinya kembali di semester berikutnya.

            Bukan tanpa alasan Novi mantap untuk menekuni bidang sosial yang juga berhubungan dengan pelajaran berhitung. Bermula saat dia masih di tingkat SD, Novi memiliki keunggulan di mata pelajaran IPS. “Selain itu, saya juga mulai menyukai pelajaran berhitung, yakni Matematika saat di SMP,” tambahnya. Di tingkat SMA, gadis yang pernah aktif di ekstrakurikuler jurnalistik saat SMP tersebut menggemari mata pelajaran Ekonomi dan Akuntansi. Itulah mengapa pada akhirnya Novi memantapkan pilihan untuk melanjutkan studi S1 di Jurusan Manajemen.

            Di sisi lain, banyak orang tidak tahu bahwa di balik pribadi yang kalem dan lemah lembutnya, Novi adalah seorang siswi yang sangat menyukai bidang olahraga. “Ibu saya adalah seorang atlet lomba lari dulunya, jadi saya mewarisi bakat ibu saya,” tutur siswi yang hobi memasak ini. Novi juga menyatakan bahwa dia pernah menjadi juara I lomba lari tingkat kabupaten tahun 2014, tepatnya saat dia duduk di bangku kelas 5 SD.

            Selain itu, gadis yang suka makan nasi goreng tersebut juga melanjutkan bakatnya di tingkat SMA. “Saya ikut ekstrakurikuler voli saat menjadi siswa baru di SMANAS,” ungkap Novi. Akan tetapi, karena tipe Novi yang suka mencoba hal-hal baru, dia berpindah haluan ke ekstrakurikuler bulu tangkis saat duduk di bangku kelas XI.

Duka dalam Doa Gadis Asal Kucur di Balik Pengumuman SNMPTN 2020

Perjuangan Novi selama menjadi siswa kelas XII mulai dari gempuran hebat dari Bapak Ibu Guru dalam menyelesaikan materi pelajaran sampai mengikuti bimbingan belajar hingga sore hari terbayarkan dengan pengumuman SNMPTN 2020. Selain memiliki daya juang yang tinggi, gadis yang mulai menginjak usia 19 tahun ini sangat termotivasi untuk mengikuti SNMPTN. “Motivasi utama saya adalah ingin mengangkat derajat kedua orang tua saya,” pungkasnya.

            Selain itu, Novi juga menuturkan bahwa salah satu inspirator yang mengubah haluannya adalah saudara yang bernama Ita Novitasari. “Sejak kecil saya ingin menjadi seorang guru, tetapi karena melihat Mbak Ita bekerja di bank, hingga saat ini saya ingin menjadi seperti beliau,” ungkap gadis yang bercita-cita sebagai pegawai bank tersebut. Diterima di Jurusan Manajemen merupakan anugerah terindah yang Novi miliki untuk segera meraih mimpinya itu.

            Akan tetapi, saat hasil pengumuman SNMPTN dilayangkan, bukan kebahagiaan yang Novi dapatkan seutuhnya. Respons sang ayah berbeda. “Karena saya diterima di Universitas Trunojoyo Madura (UTM), hal itu yang membuat ayah berubah sikap,” tuturnya sedih. Ibu Suliani yang mendukung keinginan putrinya berusaha meyakinkan sang suami bahwa hal ini merupakan kesempatan yang langka dan tidak semua siswa bisa diterima di jalur SNMPTN. Alhasil, respons sang ayah tetaplah sama.

            Hal yang lebih miris lagi, selama satu minggu lamanya, ayah Novi selalu bersikap dingin dan selalu menghindari pembicaraan terkait dengan hasil SNMPTN tersebut. “Saya juga selalu menangis kepada ibu supaya beliau bisa meyakinkan ayah, tapi ayah tetap cuek dan selalu mengalihkan obrolan,” tutur siswi kelas XII IPS 2 ini. Novi sangat tahu alasan mengapa sang ayah bersikap begitu karena beliau tidak ingin jauh dengan putrinya. “Maklum, karena saya memang anak tunggal,” jawabnya singkat.

            Sampai pada titik terlemah, Novi hanya bisa pasrah kepada keputusan sang ayah di mana nasibnya saat itu ditentukan oleh keputusan final setelah melakukan rapat pertemuan wali murid bersama Bapak Rusdi, Kepala SMA Nasional Malang, Senin (13/04) lalu. “Saya lemas dan pucat saat itu. Hanya bisa berharap ayah saya bisa memberikan izin setelah diberi pengarahan oleh Pak Rusdi,” ungkap pencinta Matematika itu.

            Novi juga menuturkan bahwa selama rapat berlangsung, pikirannya kalut dan berkecamuk hingga rapat usai. Pada detik-detik tersebut, Novi pun sudah tak kuasa menahan air matanya lagi. Lalu, tiba-tiba sang ayah berkata, “Yowis… ambilen ini kesempatanmu.” Novi senang bukan main akhirnya sang ayah mengizinkan dia untuk lanjut kuliah di UTM.

            Duka yang menyeruak berhasil ditekan sedalam-dalamnya oleh sang ayah dengan merelakan putri semata wayangnya menjemput kesuksesan di pulau garam yang jauh di sana. Tentu, semua harus dibayar kembali oleh Novi sebagai bentuk bakti kepada kedua orang tuanya. “Saya berjanji akan membawa pulang kesuksesan. Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini,” tuturnya dengan semangat berapi-api dan sudah mantap menuju Pulau Madura. (hm // bya)

BACA JUGA:

Share this post

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print
Share on email

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Close Menu