Achmad Rizki, Antara Kuliah atau Uang Tunai

Perihal rencana setelah lulus, Achmad Rizki tak ada niat untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Laptop yang dia punya pun dijual. Sebenarnya ada kesempatan untuk kuliah dan Rizki juga ingin kuliah. Namun, ayah dan sang kakak menyuruhnya bekerja saja. Seiring berjalannya waktu, Rizki berubah pikiran. Karena banyak yang mendukung dan sekolah memfasilitasi, dia ingin maju. Rizki tidak ingin mengecewakan banyak pihak.

Rizki pun maju, mencoba mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Ketika pengumuman keluar, Rizki diterima di Ekonomi Syariah Universitas Trunojoyo Madura. Demisioner ketua OSIS SMA Nasional Malang itu pun bimbang. Bu Eni Jannah, sang ibu, selalu mendukung dan mendoakannya. Namun, restu Pak Paeri belum dia kantongi. Beliau tetap kekeh menyuruh Rizki bekerja dan melarangnya kuliah. Bahkan, sang ayah telah menyiapkan sejumlah uang untuk Rizki. “Saya disuruh milih kuliah atau kerja. Jika saya memilih kerja, uang itu akan dibelikan tanah dan saya akan dibangunkan rumah,” ujar Rizki, “Tapi, jika saya memilih kuliah, uang itu akan diberikan ke saya dan saya tidak akan pernah diurus lagi,” terangnya sedih.

Dahulu ketika lulus SMP, Rizki juga dilarang melanjutkan ke SMA. Sang ayah menyuruhnya untuk langsung bekerja. “Saya dilarang melanjutkan ke SMA,” ujar Rizki. Rizki menjelaskan bahwa kakaknya pun demikian. Setelah lulus SMP, kakaknya tidak melanjutkan sekolah dan menurut apa kata ayahnya. Namun, Rizki tidak mau. Dia ngotot ingin melanjutkan ke SMA. Dia ingin bisa menempuh pendidikan yang tinggi. Apalagi, sang ibu memberinya dukungan untuk bisa sekolah tinggi. Dalam perjalanannya di SMP, Rizki sempat beberapa kali terpuruk. Terpikir olehnya untuk berhenti sekolah karena masalah biaya. Akan tetapi, sang ibu terus memberinya semangat dan berusaha untuk membayar tanggungan Rizki.

Terlahir sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, Rizki termasuk anak yang cuek dalam beberapa hal, tetapi sangat peduli dengan hal-hal yang disuka. Rizki mengaku memiliki perasaan yang mudah berkecil hati dan nelangsa. Pernah suatu ketika Rizki membantu pekerjaan orang tuanya, tetapi Rizki dianggap salah sehingga dimarahi. Rizki pun ke kamar dan menangis. “Hati saya lembut, mungkin karena dulu waktu masih dalam kandungan di-USG perempuan, tapi ketika lahir ternyata laki-laki,” tuturnya sambil tersenyum.

Sebagai remaja, Rizki termasuk anak yang nakalnya standar. Rizki tidak pernah berlaku aneh-aneh, kecuali banyak bermain keluar dengan teman-temannya hingga larut malam. Satu atau dua kali, dia pernah terpengaruh teman-teman untuk membolos bimbingan belajar. Lebih dari itu, Rizki sangat penurut, pendiam, dan tidak banyak tingkah. Kebandelan waktu kecil juga standar, sewajarnya anak-anak.

Laki-laki kelahiran Malang, 22 Agustus 2001 itu menuturkan, tantangan berat yang pernah dia rasakan, yaitu saat menjabat sebagai Ketua OSIS SMA Nasional Malang. “Saya dituntut harus lebih pandai membagi waktu, tapi justru saya cenderung banyak menghabiskan waktu di luar dan kurang waktu di rumah,” ujar alumnus SMPN 1 Wagir itu. Rizki mengaku bahwa dia terlalu egois karena lebih fokus ke organisasi. Lama-lama, hal itu membuat Rizki merasa semakin jauh dari keluarganya, terutama sang ayah. Rizki sadar, waktunya yang sangat sedikit berada di rumah membuat dia jarang berkomunikasi dengan orang tua. Rizki juga jadi jarang membantu orang tuanya. Suatu hari, Rizki pernah merasa nelangsa lantaran ayah, ibu, kakak, dan adiknya jalan-jalan. Mereka makan dan belanja di luar sedangkan Rizki tidak diajak. “Karena saya sedang tidak di rumah,” tuturnya.

Perasaan jauh dari keluarga secara emosional dan diabaikan oleh orang tuanya memudar seiring kelulusan Rizki dari SMA Nasional Malang. Rizki jadi lebih banyak waktu di rumah. Dia banyak membantu dan membangun kedekatan emosional dengan orang tua. Pelan-pelan, Rizki menepis kebingungannya tentang restu sang ayah untuk kuliah yang belum dia peroleh. Dengan hati-hati dan berlinang air mata, Rizki mencoba meminta izin lagi pada ayahnya. “Ya sudah terserah kamu, yang penting hati-hati,” demikian kata sang ayah.

Rasa lega dan bahagia tiada terkira dirasakan oleh Rizki. “Saya sangat senang karena sudah mendapat restu dari bapak,” kata laki-laki yang bercita-cita jadi pengusaha sukses ini penuh suka. Riski sangat bangga pada ayahnya karena ketegasan dan sifat amanah sang ayah. Dia memantapkan hati untuk maju ke perguruan tinggi negeri. “Saya harus bisa lebih sukses dari orang tua dan lebih menjadi kebanggaan orang tua,” tuturnya yakin. Rizki sangat ingin bisa mengangkat derajat orang tuanya dengan jalan ada anaknya yang sekolah tinggi.

Meskipun ada satu-dua tetangga yang merendahkan, Rizki tidak ambil pusing. Menurut Rizki, mereka mencibir karena tidak mungkin Rizki mampu sekolah tinggi. Dia menjadikan cibiran-cibiran itu sebagai cambuk untuk membuatnya lebih baik dan terus maju. Di sisi lain, Rizki lebih bersyukur karena masih memiliki orang tua lengkap, terutama ibu. Sang ibu sangat berpengaruh bagi Rizki karena selalu memberi motivasi dan semangat. “Kadang ibu membentak, tapi itu indah bagi saya,” ungkapnya penuh syukur. Selain ibu, Rizki juga bersyukur karena masih memiliki tante yang sellau mendukung dan memfasilitasinya selama sekolah dalam bentuk uang, barang, dan motivasi.

Pilihan yang diberikan oleh Pak Paeri pun gugur. Sang ayah memberikan restu Rizki kuliah dan tetap membelikan Rizki tanah. Saat ini, sambil menunggu kuliah masuk, Rizki aktif bekerja di salah satu konter HP dan asesoris di Kota Malang.  “Saya harus mengumpulkan uang saku untuk tambahan biaya kuliah nanti,” ungkapnya semangat. Restu dan saku sudah dikantongi, tidak ada alasan Rizki untuk bersedih hati. (bya)

Share this post

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print
Share on email

Berita Terkait

This Post Has One Comment

  1. Sangat menginspirasi

Tinggalkan Balasan

Close Menu
%d blogger menyukai ini: