Indri Sukmawati

Pegang Kepatuhan dan Kejujuran untuk Impian Sebuah Rumah

Indri Sukmawati merupakan salah satu siswa SMA Nasional Malang yang berhasil lolos SNMPTN. Dia berhasil menembus Ilmu Komunikasi Universitas Trunojoyo. Hal tersebut tidak lantas membuat Indri benar-benar bahagia. Ada hal-hal lain yang berkecamuk dalam pikirannya. Pilihan melangkah untuk kuliah sebenarnya merupakan hal yang berat. “Saya takut dengan kondisi ekonomi keluarga,” ujarnya murung. “Dari dulu saya tidak punya rumah,” tambahnya.

Selama ini, Indri dan keluarganya berpindah-pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain. Indri ingin bekerja dan mengumpulkan uang agar bisa membelikan rumah orang tuanya. Bu Jaenab, sang ibu, pun mendukung keinginan Indri. Namun, tiba-tiba Indri termotivasi dari guru-guru yang mengatakan, lebih baik kuliah dahulu, lalu bekerja. Ibunya pun mulai terbuka. Ketika suatu hari datang ke SMA Nasional Malang, sang ibu bertemu dengan seorang mahasiswi, lalu bertanya tentang seluk-beluk kuliah. “Sejak saat itu, ibu semakin yakin dan mendukung saya untuk kuliah,” tutur Indri.

Sementara itu, Pak Mujiono, ayah Indri, bersikap lebih membebaskan. Jika Indri memiliki tekad yang kuat, maka Pak Muji akan berusaha sekuat tenaga. Indri diizinkan kuliah, tetapi di Malang saja. Namun ternyata, ketika pendaftaran SNMPTN, Indri memilih Universitas Trunojoyo karena peluang masuk di sana lebih besar dibanding perguruan tinggi lain. Alhasil, pengumuman yang keluar menyatakan bahwa Indri diterima di Ilmu Komunikasi Universitas Trunojoyo.

Pascapengumuman SNMPTN, justru muncul lebih banyak pertimbangan yang harus diperhatikan ketika Indri memilih kuliah. Hal terbesar yang membuat Indri khawatir yaitu finansial. Ayah Indri adalah penjual cilok yang tidak setiap hari laku keras. Dagangan cilok itu kadang habis, kadang masih. Ibunya hanya seorang ibu rumah tangga. Indri juga masih terbayang-bayang dengan kondisi keluarganya yang belum memiliki rumah untuk tinggal menetap. Perempuan kelahiran 15 September 2001 ini tersesak karena sering pindah-pindah rumah dan membuatnya harus beradaptasi berkali-kali dengan lingkungan baru. Meski demikian, ibunya selalu meredam agar Indri tetap bersabar. “Memang begini keadaannya, disyukuri saja, begitu kata ibu,” ungkap Indri.

Ketika lulus SD, keluarga Indri juga harus pindahan kontrakan. Hal itu membuat pengeluaran besar sehingga Indri tidak bisa memilih SMP yang diinginkan. “Akhirnya ibu saya menyuruh saya sekolah di SMPN Terbuka 04 Malang,” ujar Indri. Alasannya, jika Indri di SMP tersebut, maka orang tuanya tidak akan terlalu berat mengeluarkan biaya. Indri pun menurut. Ketika lulus SMP, lagi-lagi keluarga Indri berbarengan dengan pindahan kontrakan. Lagi-lagi Indri terhalang untuk bisa sekolah di sekolah yang dia inginkan. Lalu, ada salah satu saudaranya yang sekolah di SMA Nasional Malang dan menjelaskan program beasiswa yang ada. Indri pun masuk SMA Nasional Malang. Hal itu sama sekali tidak membuatnya menyesal. “Mungkin kalau saya di sekolah lain, saya tidak akan dibimbing dan diarahkan sampai sejauh ini,” ujar gadis yang pernah menjadi juara favorit dance  di Politeknik Negeri Malang ini.

Sebagai anak pertama dari dua bersaudara, Indri termasuk anak yang tegas dan patuh pada orang tuanya. Ketika di rumah, Indri selalu membantu pekerjaan orang tua, terutama membuat cilok. Selain itu, Indri juga sangat hemat. Dia menyisihkan uang saku yang diberikan oleh orang tuanya untuk ditabung. Ketika memiliki target barang tertentu, dia akan membuka tabungan itu. “Saya sudah pernah dua kali membeli HP dengan tabungan saya sendiri,” kata perempuan yang hobi menari ini. Bahkan, ketika orang tuanya sedang krisis keuangan dan tidak ada modal untuk berjualan cilok, tabungan Indri lah yang sering dipakai.

Indri merupakan anak yang selalu berusaha menjaga kepercayaan orang tuanya. Apalagi dengan kuliah jauh dari rumah, Indri semakin harus bisa menjaga kepercayaan ibunya. Dalam kehidupannya selama ini, gadis yang supel ini selalu berkata jujur. Bagi Indri, dirinya harus memiliki banyak teman sehingga dia dekat dengan banyak teman, tidak hanya teman kelasnya.

Gadis dari kelas Bahasa ini selalu menyayangkan jika ada orang yang menyepelekan uang receh. Sering kali dia naik angkot atau membeli jajan, kemudian dia melihat ada orang yang menolak diberi kembalian uang receh. Bagi Indri, hal itu tidak menghargai uang. Padahal, uang sama saja, yang penting adalah nilainya. Selain itu, Indri juga menyayangkan jika ada teman-temannya yang merusak kepercayaan orang tua. “Saya tidak pernah terpikir kok bisa teman-teman ada yang berbohong dan mengkhianati kepercayaan orang tuanya, terutama soal uang,” ungkap Indri heran. Indri berpedoman bahwa dia harus selalu jujur apa pun keadaannya. Dia selalu jujur pada orang tua tantang apa pun yang dia pikirkan, dia rasakan, dan dia rencanakan. Indri tak pernah merasa menyesal karena selalu mengikuti saran orang tuanya. “Saya yakin, jika saya menuruti perkataan orang tua, saya pasti sukses,” ungkap Indri yakin.

Bagaimanapun kondisi keluarganya, Indri selalu menerima. Gadis yang juga aktif di ekstrakurikuler ECC ini bersyukur memiliki kedua orang tua yang demikian. “Ayah dan ibu saya selalu mendukung keputusan saya,” kata Indri. Indri juga bersyukur karena orang tuanya selalu bisa mengarahkan ketika Indri curhat tentang sesuatu.

Pada akhirnya, Indri harus membulatkan tekad untuk kuliah. Indri menargetkan IPK tinggi, lulus tepat waktu, dan berharap bisa kerja yang mapan. Sebagai perempuan yang fleksibel, Indri yakin akan bisa beradaptasi mengikuti kondisi lingkungan. “Saya harus siap dengan kondisi apa pun, termasuk omongan orang,” tutur Indri. Indri ingin mewujudkan impian besarnya, yakni memberikan rumah kepada orang tuanya.(bya)

BACA JUGA:

Share this post

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print
Share on email

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Close Menu