Vidiasih

Calon Relawan yang Siap Bergelut dengan Listrik

 Vidiasih, salah seorang siswa SMA Nasional Malang yang dipuji banyak guru karena sikapnya yang rajin dan mau bekerja keras, terutama menjadi relawan dalam menjaga kebersihan. Vidi tak pernah merasa jijik untuk berkotor-kotor di sekolah. Setiap selesai pelajaran, dia akan berkeliling dengan timnya untuk membersihkan sampah. Dia singsingkan lengan baju, lalu ia ikat ujung kerudung yang depan ke belakang. Tangannya begitu gesit. Alumnus SMPN 1 Wagir ini tak akan membiarkan satu sampah bersarang di lingkungan sekolah. Selain membersihkan sampah, Vidi dan timnya juga membersihkan saluran air. Tidak hanya itu, mereka juga secara tulus tanpa instruksi membersihkan kamar mandi dua kali dalam seminggu. Vidi dan timnya tergabung dalam tim UKS. Dialah ketuanya.

 Vidi tidak manja atau merasa jijik sedikit pun. Katanya, sikap yang demikian ia contoh dari Pak Turiman, sang ayah. “Ayah paling tidak suka lihat kotor sedikit pun dan saya sama,” ujar Vidi. “Sejak dulu saya sangat ingin bisa menjadi relawan,” tambahnya. Masuk dalam tim UKS bagi Vidi merupakan wadahnya untuk bisa menjadi relawan. Ketika upacara, dia dengan sikap berjaga dan membantu siswa lain yang sakit. Dia sabar dalam merawat siswa yang sakit. Di sela-sela pelajaran pun demikian. Dia akan tegas bersikap jika ada anak yang berpura-pura sakit, tapi istirahat di UKS.

Vidi yang dikenal rajin, tekun, dan tegas, sebenarnya dahulu nakal. Itulah yang dia sebutkan. “Sebenarnya saya termasuk anak nakal,” tuturnya. Ketika kecil, dia sering berantem dengan anak-anak laki-laki. Bahkan Vidi berhasil membuat anak laki-laki itu lari menangis karena sikapnya. Perempuan yang lahir pada 13 Februari 2001 ini sadar bahwa dahulu dia sangat egois, pemarah, dan tidak mau banyak berteman. Sifat kerasnya itu luluh ketika dia bergabung dengan klub voli putri Kebonagung. Melalui voli, Vidi sadar bahwa kerja tim sangat penting dan tidak boleh ada yang egois. Dahulu, sering teman-temannya menjadi pelampiasan ketika dia mengalami masalah. Akan tetapi, sedikit demi sedikit dia belajar mengendalikan diri.

Di sisi lain, kariernya di voli hanya berlangsung sesaat. Vidi harus memutuskan untuk melepas klubnya karena dia kesulitan membagi waktu antara belajar, mengerjakan tugas, dan latihan. Bahkan dia pernah dikeluarkan dari kelompok karena tidak ikut mengerjakan. “Tapi saya sangat menyesal karena memilih keluar,” tuturnya. Andai bisa memutar waktu, dia ingin lebih keras berusaha membagi waktu agar bisa jalan semua. Karena kondisi saat sudah berbeda, maka perempuan asli Tenggulunan ini memutuskan untuk mencapai target lain dalam hidupnya.

Meski lahir dalam keluarga yang sederhana, semangat belajar Vidi tidak pudar. Ayahnya merupakan penjaga SDN Mendalanwangi 02, tempatnya dulu bersekolah. Bu Sumarmi, sang ibu, hanya ibu rumah tangga. Vidi selalu membangun kedekatan dengan orang tuanya. Dia terbuka, menceritakan apa yang alami pada orang tua, termasuk target-target yang ingin dia raih. “Saya bersyukur orang tua percaya pada saya dan tidak banyak menuntut,” ungkap Vidi. Ayah dan ibunya selalu mendukung apa pun yang menjadi keputusan Vidi asalkan Vidi mampu, berarti itu baik. 

Pada mulanya Vidi tidak terpikir untuk kuliah. Namun, satu per satu motivasi mendatangi dia. Vidi mempunyai seorang sepupu, Alm. Rudiantoro. Ketika masih hidup, sepupunya inilah yang sering mengingatkan Vidi untuk bisa terus sekolah. Bahkan Vidi selalu dibelikan buku dan alat sekolah setiap tahun. Vidi sadar, meski sang kakak sepupu telah meninggal karena liver, semangatnya untuk sekolah harus tetap membara. Ketika silaturrahmi ke sepupu yang lain, Vidi juga diberi motivasi agar sekolah menjadi prioritasnya. Dalam perjalanan pulang, Vidi menangis, teringat dengan wejangan kakak-kakaknya.

Perempuan yang suka berolahraga ini termotivasi oleh salah satu teman sebangkunya yang semangat ingin kuliah. Apa pun yang dikatakan temannya tentang kuliah, pada akhirnya selalu dipikirkan dan dipertimbangkan oleh Vidi. Vidi ingin mendaftar kuliah di Surabaya, tapi tidak jadi karena terlalu jauh. Akhirnya diputuskan di Malang saja. Lagi pula, Vidi menyadari bahwa sebenarnya sudah sejak SMP dia menyukai hal-hal berbau listrik. Ketika kelas IX, Vidi pernah diajak guru IPA-nya untuk membantu merangkai kabel yang akan digunakan praktik. Vidi merasa senang, seakan menemukan dunianya. Di sisi lain, kakak pertamanya di rumah bekerja di PLN. Jadi, ketika ada kabel atau hal-hal berbau listrik rusak, Vidi membantu sang kakak. Hal itu membuatnya makin cinta listrik.

Sebenarnya, sang ayah mendukung. Apalagi Vidi ingin mendaftar kuliah melalui jalur beasiswa. Sementara itu, ada sedikit ketakutan yang dirasakan ibunya. Sang ibu berpikir terlalu jauh, khawatir  Vidi tidak akan mampu. Meski demikian, Vidi tak putus semangat. Apalagi ada saudara-saudara yang meremehkannya. Mereka menganggap, Vidi tidak akan mampu dari sisi nilai, kemampuan dalam tes, dan ekonomi. “Justru itulah yang membuat saya termotivasi agar mereka tidak merendahkan saya,” tuturnya tegas.

Doa-doa Vidi pun terjawab. Tanpa banyak bicara sana-sini, Vidi langsung memberikan bukti. Pada 28 Maret 2020, dia mampu mematahkan remehan dari orang-orang yang merendahkannya dan keraguan yang pernah ada. Perempuan yang memiliki moto hidup “setiap peristiwa pasti ada hikmahnya” ini diterima di D3 Teknik Listrik Politeknik Negeri Malang tanpa tes dan melalui jalur beasiswa.

Dengan pengumuman kelolosan ini, Vidi meyakinkan dirinya untuk terus semangat mengejar target-targetnya. “Saya ingin bisa meraih yang lebih dari ini,” tutur perempuan yang aktif di karang taruna ini. Ketika kuliah, Vidi ingin lebih aktif dan berprestasi dengan mengikuti lomba-lomba. Vidi juga teguh ingin mewujudkan harapannya untuk selalu bisa jadi relawan. (bya)

BACA JUGA:

Share this post

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print
Share on email

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Close Menu