Terjang Kerikil Tajam untuk Sambung Harapan Jadi Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Sayyidatur Rohmah merupakan salah satu siswi SMA Nasional Malang yang berhasil mengukir prestasi membanggakan dengan tembus perguruan tinggi negeri melalui jalur SNMPTN 2020. Dia diterima di Jurusan Sastra Inggris, Universitas Trunojoyo Madura. “Saya sempat mundur untuk tidak lanjut kuliah sampai dua kali berturut-turut, namun inspirator dan motivator saya, yaitu Miss Vivin, selalu sabar untuk memberikan motivasi hingga akhirnya saya memutuskan untuk lanjut kuliah,” tutur siswi yang kerap dipanggil Sayyida tersebut. Sayyida juga mengatakan bahwa alasan mundur untuk tidak lanjut kuliah kala itu adalah kondisi ayahnya yang tiba-tiba sakit. “Sehingga saya tidak tega jika harus kuliah di tempat jauh,” ungkap siswi alumni SMP KH Amir tersebut mengawali cerita salah satu kisah kerikil tajam dalam hidupnya.

Kisah Kerikil Tajam Sayyida dalam Meraih Asa

Putri bungsu dari pasangan Bapak Saliman dan Ibu Susana ini juga menyimpan segudang lika-liku perjalanan yang dihiasi dengan  kerikil tajam lainnya. Kondisi ekonomi keluarga yang terbatas membuat ibu Sayyida merasa putus asa dan meminta dia untuk tidak lanjut ke jenjang SMA. “Akan tetapi, saya sangat bersyukur karena berkat beasiswa dari SMA Nasional Malang, akhirnya orang tua saya menginzinkan saya untuk lanjut bersekolah,” ucap syukur gadis pencinta drama Korea ini.

Tak hanya itu, Sayyida juga sering merasa iba ketika melihat ibunya harus pinjam uang ke kakak perempuannya saat akan untuk uang saku Sayyida. “Penghasilan kedua orang tua saya ya hanya dari panen di ladang, sehingga kalau belum musim panen, ibu saya harus mencari uang pinjaman untuk memberikan saya uang saku,” tutur gadis kelahiran Malang, 07 Agustus 2002 tersebut. Belum lagi kondisi ayah Sayyida yang memiliki penyakit paru-paru dan sering kambuh mendadak. “Jika ayah sudah seperti itu, saya sering merasa down,” ungkapnya sedih.

Kerikil tajam lainnya yang harus dilewati oleh Sayyida adalah jarak tempuh dari rumah menuju sekolah. “Rumah saya di Wajak, sehingga kalau berangkat sekolah harus sangat pagi karena harus ditempuh sekitar 45 – 60 menit. Belum lagi kalau macet di area Pasar Gadang, jadinya saya sering terlambat tiba di sekolah,” ungkap gadis penggemar lagu A Whole New World tersebut. Pernah juga suatu ketika, Sayyida ingin tidak lanjut sekolah di SMANAS akibat dari jauhnya jarak yang harus dia tempuh. “Sempat saat kelas XI, saya hampir ingin mengundurkan diri karena capek harus PP dengan jarak sejauh itu,” tutur Sayyida. Akan tetapi, dia mengurungkan niatnya karena dia merasa kasihan kepada Vicke, sahabat seperjuangannya jika harus ke SMANAS sendiri.

Motivasi Sayyida untuk Tetap Tegar Raih Kesuksesan

Selain ingin berjuang bersama temannya, tekad bulat untuk membanggakan kepada kedua orang tua menjadi motivasi utama Sayyida untuk tetap menerjang semua kerikil tajam dalam menggapai cita. “Saya ingin membuktikan kepada orang tua saya bahwa saya dapat dibanggakan. Selain itu, saya juga harus membuktikan kepada semua saudara saya kalau saya bisa sukses,” ungkapnya tegas. Pasalnya, Sayyida merupakan satu-satunya anak dari keluarganya yang dapat memiliki jenjang pendidikan paling tinggi. “Ketiga saudara saya rata-rata hanya lulusan SD dan SMP, sehingga saya harus bisa sukses dan dapat mengangkat derajat keluarga,” tutur siswi yang pernah aktif dalam OSIS SMANAS tersebut.

Semua usaha dan doa yang selalu Sayyida lakukan kini telah terjawab. Dengan diterima di jurusan yang dia inginkan, inilah titik awal Sayyida untuk mulai membuka pintu gerbang kesuksesannya. “Awalnya saya ingin masuk ke Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris karena saya ingin menjadi seorang guru Bahasa Inggris,” tutur Sayyida. Dia melanjutkan bahwa berkat arahan dari Bapak Rusdi, Kepala SMA Nasional Malang, dia pun mantap untuk masuk ke Jurusan Sastra Inggris. “Beliau memberikan pengertian kepada saya bahwa dengan masuk Sastra Inggris, saya juga bisa menjadi seorang guru nantinya,” ungkap siswi yang mengidolakan Pak Mustafa, guru Bahasa Indonesia SMANAS tersebut. Selain itu, terinspirasi dari para bapak dan ibu guru SMA Nasional Malang, Sayyida memantapkan langkahnya untuk siap mengabdi menjadi pahlawan tanpa tanda jasa di masa depan.

Harapan Terbaik Melalui Jurusan Sastra Inggris

Sayyida mengakui bahwa dia mulai menyukai dunia kebahasaan dan sastra bermula saat dia masih duduk di bangku SD dan SMP. “Awalnya saya sangat suka dengan pelajaran Bahasa Indonesia karena saya suka unsur bahasa yang mengandung seni seperti puisi,” tutur siswi yang pernah aktif dalam ekskul English Conversation Club (ECC) SMANAS tersebut. Kemudian, dia menegaskan juga bahwa rasa senang terhadap pelajaran Bahasa Inggris mulai tumbuh saat di jenjang SMA. “Saya mulai mendalami pelajaran Bahasa Inggris ketika saya duduk di bangku kelas X. Saat itu, saya mulai bisa memahami kosakata Bahasa Inggris dengan baik, ditambah saya sudah mulai memahami rumus-rumus dalam tata bahasanya,” ungkap Sayyida.

Rasa sukanya terhadap Bahasa Inggris juga semakin dilakukan dalam aksi nyata, yakni fokus untuk berlatih berpidato dalam Bahasa Inggris. “Pencapaian yang sangat saya banggakan adalah ketika saya memiliki kesempatan untuk mewakili SMANAS di ajang Speech Contest dalam Jatim English Competition (JEC) 2019 lalu,” tutur Sayyida penuh rasa semangat. Dia juga mengaku merasa bangga atas pengalaman yang luar biasa tersebut meskipun belum bisa mendapatkan juara. “Saya ingin melanjutkan pengalaman tersebut nantinya di perguruan tinggi, yakni melalui lomba debat dalam Bahasa Inggris,” ungkap gadis penggemar warna kuning tersebut.

Mimpi dan harapan terbaik juga disampaikan oleh Sayyida melalui Jurusan Sastra Inggris. “Saya ingin segera lulus dan mendapatkan IPK clumlaude,” ungkap Sayyida berapi-api. Selain itu, dia ingin melanjutkan keaktifannya dalam berorganisasi seperti halnya dia lakukan saat menjadi OSIS SMANAS. “Saya ingin ikut organisasi kampus yang berhubungan dengan Jurusan Bahasa Inggris bahkan juga dengan kumpulan jurusan lainnya,” tambahnya. Sayyida juga berharap melalui jurusan Sastra Inggris ini, dia bisa berkomunikasi dengan orang luar negeri dengan lancar. “Saya tentunya bisa berbagi banyak pengalaman terkait dunia bahasa Inggris yang lebih luas dengan murid-murid saya kelak ketika saya telah menjadi seorang guru,” ungkap Sayyida bersemangat. (hm // bya)

BACA JUGA:

Share this post

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print
Share on email

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Close Menu