Tata Peran yang Bertambah

Ketika mendengar kata pandemi, hampir seluruh isi pikiran masyarakat Indonesia pastinya terlintas daring dan “dikurung”. Tidak salah karena pada kenyataannya selama masa pandemi banyak berita dan celotehan tentang kedua hal tersebut. Mulai dari keluhan sampai beberapa yang justru merasa nyaman. Banyak peraturan yang dikeluarkan pemerintah menghadapi masa sulit yang menjadi momok seluruh warga dunia itu. Larangan datang ke tempat ini dan itu, hingga kewajiban mengenakan masker, menjaga jarak, dan rajin mencuci tangan menggunakan sabun pada air yang mengalir. Bahkan ada banyak sanksi yang diterapkan.

Dampak dan tantangan baru yang mau tidak mau harus dihadapi pun tidaklah sedikit. Tentu saja, ada banyak perubahan ekstrem dalam segala sisi kehidupan. Anak dan remaja sekolahan harus ekstra belajar lantaran larangan mengunjungi sekolah. Para pekerja yang terpaksa kehilangan pekerjaan juga tidaklah sedikit, hingga para ibu yang harus ekstra menjalani perannya di rumah.

Peran guru, ibu, dan istri harus mereka lakukan dalam kadar yang lebih, seperti yang dialami seorang ibu muda bernama Riza Alvio Nita. Perempuan asal Dusun Sumberbendo, Desa Kucur, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang ini harus rela mengubah tata waktu hariannya demi mengajari Alifa Nayla Putri, putri kecilnya, belajar dan membantu sang suami mengurusi dagangannya. Tentu saja dengan tidak lupa tetap menjalankan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga. “Kalau dulu setelah mengantar anak, bisa pulang dan langsung membantu mengurusi dagangan suami. Kalau sekarang masih harus mengajari tugas anak juga,” tutur perempuan kelahiran 1999 ini.  Di usia yang tergolong muda, perempuan ini mampu menjalani peran-peran itu dengan baik.

Bimbingan untuk anak semata wayangnya yang dulu dia serahkan kepada guru di sekolah, sekarang mau tidak mau harus dia ambil alih. Vio harus menjalani peran guru tersebut. Membimbing anaknya untuk tetap aktif belajar meski masa pandemi bukanlah hal yang mudah. Apalagi sang putri masih menyelami masa Taman Kanak-kanak (TK). Perempuan ini mengatakan bahwa mengajari anak kecil itu memerlukan kesabaran yang ekstra. “Kita harus mempunyai kesabaran ekstra dan karakter ceria yang tidak semua orang bisa. Jujur saja, itu sangat sulit. Para guru TK sangat hebat,” ucap anak tunggal tersebut.

Apalagi pada era ini teknologi sudah menjamah berbagai kalangan, tak luput putri Vio yang masih tergolong anak-anak. Oleh sebab itu, perempuan ini memilih memanfaatkan hal itu untuk keberlangsungan pembelajaran putrinya. “Karena dia sering menonton video youtube, maka kalau ada pelajaran menyanyi saya akan menyuruh dia belajar dari sana. Dia lebih cepat belajar kalau dari youtube. Mungkin karena suasana video yang lebih menyenangkan,” jelasnya sambil tertawa. Tentu saja ibu muda ini tetap memantau kegiatan anaknya.

Vio mengaku melakukan hal itu cukup sulit. Belum lagi ketika tugas yang diberikan guru cukup sulit. Perempuan ini menceritakan, pernah suatu waktu putrinya mendapat tugas membuat pakaian dari barang bekas. Dia dan suaminya kelabakan mengerjakannya. Dia mengatakan, seperti dirinya yang sekolah saja. “Kayak saya yang sekolah dan putri saya yang jadi model,” tuturnya sambil sedikit bercanda.

Tak hanya tentang menjadi ibu dan anak yang baik, tetapi masa ini juga menuntutnya untuk menjadi istri dan pekerja yang hebat. Vio juga harus membantu menata dagangan suaminya yang seorang pedagang sayur. Bukan hal baru mengingat sudah sejak lama dia melakukan hal itu. Hanya saja, tatanan waktunya yang berubah. Dari yang awalnya pagi hari sebelum sang suami berangkat, sekarang menjadi sore hari untuk didagangkan keesokan harinya.

Tak jarang dia harus menitipkan putrinya ke sanak saudara karena harus membantu suaminya berdagang. Perempuan itu mengatakan, dirinya beruntung lahir di desa karena tak perlu sungkan untuk menitipkan anaknya di sanak saudara. “Saya beruntung lahir di desa karena tak perlu sungkan untuk meminta tolong orang lain,” kata perempuan berumur 22 tahun tersebut.

Vio merasa masa pandemi ini membuat dia lebih mengetahui tentang anak dan suaminya. Dia merasa menjadi lebih mengenal bagaimana cara belajar dan kecepatan tanggap anaknya, bagaimana berusaha mendidik anaknya dengan baik dan memantau perkembangan belajar putrinya dengan mata kepalanya sendiri. Vio menegaskan, jika tidak pandemi mungkin dirinya hanya akan tahu bagaimana hasil belajar putrinya. Selain itu, dia juga menjadi lebih mengetahui tentang kerja keras suaminya dalam mencari uang. Akan tetapi, tentu saja dia juga berharap masa pandemi ini cepat berakhir. “Bagaimanapun juga saya tetap berdoa semoga masa ini cepat berakhir dan semua berjalan normal kembali,” tutur perempuan penyuka pedas ini.(fbi//bya)

Share this post

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print
Share on email

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Close Menu