Kulepas Cintaku di Penghujung Jalan

Karya Susilowati

Sinar mentari menitik embun pagi
Dikala serpihan angin menghampiri
Tak sanggup embun menahan diri
Jatuh tak berdaya tersakiti
Dia….yang di sana
Menunggu dengan penuh harapan
Menanti akan datangnya kepastian
Oh mentari….
Sampaikan rindu padanya
Bersama sejuknya embun pagi
Rindu yang kunjung tak bertepi
Pada waktu yang kian menyatukan hati

…….

Dunia sangatlah luas. Jika kita memandang jauh banyak sekali cerita yang dapat kau nikmati. Salah satunya cerita indah masa putih abu-abu. Berbagai cerita dan kenangan yang tak akan terlupakan selalu membekas di hati, itulah putih abu-abu. Dua insan yang saling melengkapi satu sama lain. Bak taman penuh bunga yang bermekaran nan indah. Begitu juga Humaira dan Arfan telah mengukir indah kisah mereka bersama putih abu-abu. Cerita mereka berawal dari dipersatukannya dalam satu kelas. Mereka sama-sama kelas XII IPA 3. Dulu waktu kelas XI mereka beda kelas. Sebenarnya sudah saling mengenal satu sama lain melainkan hanya sebatas tetangga kelas, tidak lebih dari itu. Banyak rintangan yang mereka lewati dan takdir mempersatukan mereka. Takdir yang tak pernah terduga oleh keduanya. Maira, gadis cantik nan sholeha yang kepribadiannya akhlakul karimah. Arfan, laki-laki yang pendiam namun humoris. Ketika kelas XI Arfan pernah dekat dengan banyak teman perempuannya. Tapi, itu berujung dengan tidak adanya kepastian. Sungguh sakit bukan? Sedangkan Maira, dia pernah suka atau mengagumi kakak seniornya, tapi tak kunjung terbalaskan.

Semester 5 sudah dimulai, saat itu semua siswa SMA LENTERA PUTIH masuk sekolah seperti biasanya untuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan tiap-tiap kelas. Entah merenovasi kelas, menyiapkan struktur kelas, denah tempat duduk dan masih banyak lagi. Arfan dan Maira masih belum akrab. Saat itu pembagian denah tempat duduk, Maira meminta untuk tidak diberi duduk di depan, pintanya pada Arfan selaku ketua kelas. Arfan mengiyakan, dia akan mencoba bilang ke Dara, anak yang membagi denah tempat duduk. Tetapi, alhasil tidak bisa Maira tetap duduk di depan sedangkan Arfan duduk di deret belakang Maira.

***

Humaira

  • Assalamu’alaikum, Arfan.

Arfan

  • Wa’alaikumussalam, Maira.
  • Iya, ada perlu apa?

Humaira

  • Aku cuma ingin bilang kamu bisa gak bujuk Dara biar aku tidak duduk di depan?
  • Maaf merepotkanmu, Fan. J

Arfan

  • Iya, nanti aku coba bilang ke Dara.
  • Santai aja, Ra.

Humaira

  • Makasih ya Arfan.

Arfan

  • Iya, sama-sama.

***

Keesokan harinya, Arfan sudah datang terlebih dahulu sebelum Maira. Beberapa menit kemudian, Maira datang dan duduk di kursi depan. Arfan melihat dan menghampirinya.

“Hai Ra,” sapa Arfan.

 “Iya, Fan.”

“Aku sudah bilang ke Dara katanya tidak bisa, tapi kalo pembelajaran kamu bisa pindah kok,” jelas Arfan.

“Ahh, sudahlah tak apa. Makasih ya.”

“Sama-sama, Ra.” Sembari meninggalkan Maira menuju tempat duduknya.

Kring….kring…kring….

Bel masuk sudah didentangkan. Semua siswa persiapan di kelas menunggu bapak ibu guru yang mengajar. Tak disangka tanpa sepengatahuan Maira, diam-diam Arfan memperhatikannya. Memang tempat duduk mereka tidak jauh. Jam istirahat tiba, siswa SMA LENTERA PUTIH berbondong-bondong menuju ke kantin untuk mengisi perut mereka. Saat Maira sedang membaca novel, tiba-tiba datang Arfan dan….

“Ra, ke kantin yuk,” ajak Arfan.

Maira mendongakkan kepalanya, “Kamu duluan saja, aku gak ke kantin soalnya.”

“Oh, ya sudah. Aku duluan ya.” Sembari meninggalkan Maira yang sedang asyik membaca novel kesukaannya.

Jawab Maira, ”Iya.”

Waktu istirahat sudah berakhir, semua siswa kembali melanjutkan pelajaran berikutnya. Pukul 15.00 mereka sudah pulang.

Malam harinya, Arfan mengirim pesan pada Maira.

Arfan

  • Assalamu’alaikum, Maira.

Humaira

  • Wa’alaikumussalam.
  • Iya, ada perlu apa?

Arfan

  • Oh, nggak.
  • Aku cuma mau tanya lagi ngapain?

Humaira

  • Aku?
  • Lagi nugas nih.

Arfan

  • Lagi nugas ya, ya udah lanjut aja.

Humaira

  • Iya.

Detak jantung yang tak berirama kini mulai menghampiri diri Arfan. Dia tak pernah mengalami ini sebelumnya, memang dulu banyak yang dekat dengan dia. Tapi, rasanya berbeda ketika dia dengan Maira. Apa jangan-jangan Arfan memang benar jatuh hati pada Humaira. “Astaghfirullah,” batin Arfan.

***

Hari berikutnya, sudah pukul 06.45 tapi Maira tak kunjung datang. Arfan sangat cemas, pikirannya melayang-layang tak karuan bagai kapal yang kehilangan arah kemudi. 5 menit berlalu, Arfan semakin gundah kekhawatirannya menjadi meningkat. Dia berpikir apa terjadi sesuatu pada Maira, apa dia sakit tapi kenapa tak kirim surat atau ke mana Maira? Beribu pertanyaan melayang dipikiran Arfan tanpa ada satupun jawabannya. Pelajaran sudah dimulai, kemudian terdengar pintu diketuk.

Tok….tok….tok….

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam,” serempak satu kelas.

“Oh, Maira akhirnya kau datang juga,” batin Arfan.

Seulas senyum tergaris di bibir Arfan melihat Maira yang tak kurang satu apapun. Setelah duduk, Arfan segera meghampiri Maira.

“Ra, kamu ke mana saja sih? Kamu gak tau aku khawatir banget takut terjadi sesuatu denganmu,” tanya Arfan.

“Alhamdulillah aku baik-baik saja, aku tadi kesiangan berangkatnya jadi telat. Maaf membuatmu jadi khawatir,” ucap Maira.

“Iya, Ra. Tapi lain kali kamu kasih tau aku ya.”

Maira terpaku kemudian, “Iya, Fan. Makasih.”

“Sama-sama.”

Kekhawatiran Arfan seketika membuyar setelah mendengar penjelasan dari Maira. Begitu dia kembali duduk, Arfan memegangi dadanya. Entah apa yang terjadi padanya, setiap kali dia dekat dengan Maira jantungnya berdetak dua kali lebih kencang dari biasanya.

“Oh, Tuhan. Inikah yang dinamakan dengan cinta?” batin Arfan.

Arfan memang selalu memperhatikan Maira, tapi dia masih bingung dengan perasaanya. Mungkinkah Arfan secepat itu menaruh hati pada Maira? Dia berpikir ini obsesi, cinta atau hanya sekedar ingin mengenalnya lebih? Tapi itulah cinta, lambat laun Arfan akan menyadari bahwa ia sedang jatuh hati pada Maira.

***

Malam yang gemilang. Bintang-bintang bertaburan di langit yang gelap sungguh indah pemandangam malam itu. Seperti hati Arfan yang indah akan kehadiran Maira dalam sepersekian detik  cepat dalam hidupnya. Namun, malam ini Arfan ditemani dengan tugas yang setia menunggu. Begitu pula Maira, di pasti juga  sedang sibuk dengan tugas-tugasnya. Dia anak yang rajin dan rendah hati. Arfan memandang ponsel di sebelah bukunya. Ingin hati mengambil ponsel itu dan menanyakan kabar Maira. Tangan Arfan hampir menggapai ponsel itu tapi segera ditarik olehnya. Untuk kedua kalinya Arfan melakukan tapi ditariknya lagi. Dan sekarang yang ketiga kalinya dia memutuskan untuk membuka ponselnya lalu membuka whatsaApp dan mengirim pesan pada Maira.

Arfan

  • Assalamu’alaikum,Ra.

10 menit tak ada balasan dari Maira.

….

Humaira

  • Wa’alaikumussalam

Arfan

  • Lagi banyak tugas ya?

Humaira

  • Iya nih, lagi nugas.
  • Ada apa?

Arfan

  • Enggak, cuma pengen tau aja kamu lagi ngapain.

Humaira

  • Aku lanjut dulu ya.

Arfan

  • Iya.

Usai sudah percakapan mereka. Namun, sebenarnya Arfan masih ingin berkomunikasi lebih lama dengan Maira, tapi sudahlah dia juga mau nugas. Diletakkan HPnya dan kembali bersama teman setianya, tugas. Hari sudah larut malam, Arfan beranjak tidur.

***

Setelah selesai sholat shubuh, Maira menerima pesan dari Arfan.

Arfan

  • Assalamu’alaikum, Ra.
  • Selamat pagi.

Humaira

  • Wa’alaikumussalam, pagi juga.
  • Ada apa?

Firasat Maira mengatakan ada sesuatu yang berbeda dengan Arfan, dia lebih sering mengirim pesan padanya. Sebenarnya Maira juga sudah tau kalau Arfan sering memperhatikannya. Tapi apa maksud dari sikap Arfan, apa jangan-jangan Arfan menyukainya? Pikir Maira.

Arfan

  • Sebenarnya aku mau ngomong sesuatu sama kamu, Ra. Tapi aku ragu.

Humaira

  • Ngomong aja gak papa, gak usah ragu.

Arfan

  • Gini, ra. Sebenarnya itu….

Humaira

  • Sebenarnya apa, bilang aja gak papa. Siapa tau bisa bantu.

Arfan

  • Sebenarnya aku suka sama kamu, Ra.

“Astaghfirullah, apa yang aku katakan?” batin Arfan.

Deg….

Jantung Maira seakan berhenti berdetak. Dia tak percaya dengan apa yang baru dia baca. Benarkah Arfan menyukainya? Tidak, mungkin Arfan sedang bercanda. Tapi, bagaimana kalau dia memang suka betulan.

Ya Allah, jagalah hati hambamu ini. Tunjukkilah hamba jalan yang benar ya Allah. Ya muqallibal qulub tsabbit qalbi ‘ala diinik.

Doa Maira dalam hati. Arfan tidak cukup keberanian untuk mengungkapkan  hal itu, tapi itu sudah terlanjur dia ucapkan dan tak bisa ia menariknya. Hati Arfan tak karuan memikirkan balasan dari Maira. Apa Maira marah dengannya atau dia senang bahwa tau Arfan suka pada Maira. Maira tak kunjung membalas pesan Arfan. Sekarang sudah pukul 06.00, Arfan berpamitan pada bunda untuk berangkat sekolah.

***

Pagi ini Maira datang lebih awal dari Arfan. Dia malu untuk bertemu dengan Arfan. Apa yang telah dia lakukan sehingga Arfan menyukainya? Itu yang terpikirkan oleh Maira sekarang. Tapi, Maira berusaha bersikap biasa pada Arfan. Saat jam istirahat ia menghampiri Arfan yang sedang duduk di bangkunya. Niat hati Maira ingin menanyakan ucapan Arfan tadi pagi.

“Fan,” sapa Maira.

“Eh Maira, iya ada apa?” sambil mempersilakan Maira untuk duduk.

“Aku boleh tanya sesuatu?”

“Silakan.”

“Tadi pagi kan kamu bilang katanya kamu suka denganku. Apa itu memang benar?” tanya Maira ragu.

“Hmmm,,, iya, Ra. Aku memang menyukaimu,” sambil menundukkan kepala.

“Ahh, kamu pasti bercanda ya? Kan kita teman gak mungkinlah kamu suka sama aku.”

“Tapi bener, Ra. Aku memang suka sama kamu. Kamu marah ya kalau tau aku suka?” tanya Arfan.

“Tidak kok, ya cuma kaget aja waktu kamu bilang tadi pagi.”

“Lalu gimana, Ra? Boleh aku menyukaimu?” tanya Arfan.

“Gimana ya? Hmm… boleh aja sih sebenarnya. Asalkan niatnya baik.”

Seulas senyum tersungging di bibir Arfan, “Alhamdulillah, makasih ya Maira.”

“Iya,” dengan langkah meninggalkan Arfan.

Seketika hati Maira bergetar kembali. Apa yang terjadi, apakah dia juga menyukai Arfan? Maira tidak begitu paham dengan keadaan sekarang. Di satu sisi, Arfan baru saja mengungkapkan perasaanya pada Maira. Di sisi lain, Maira tidak suka dalam arti belum ada rasa dengan Arfan. Tapi, mengapa jantungnya berdetak kencang? Dalam hati Maira berdoa.

Ya Allah, Engaku dzat yang maha membolak-balikkan hati manusia, teguhkanlah hati hamba di atas agama-Mu. Jika Arfan memang yang terbaik buatku dekatkan kami dengan cara yang halal dan jika dia bukan yang terbaik jaukan pula kami dengan cara yang baik ya Allah. Aamiin……

Setelah kejadian itu, Maira dan Arfan menjadi dekat. Mereka selalu bersama sampai temannya heran apa di antaranya ada sesuatu yang spesial? Ahh, tidak itu hanya pikiran temannya sebab realitanya tidak begitu, mereka hanya sekedar dekat tidak ada hubungan. Tapi, keduanya berkomitmen untuk menjaga satu sama lain dan berjuang bersama untuk meraih masa depan yang indah. Maira bercerita pada Aisyah, sahabatnya Arfan. Maira menceritakan semua kejadian seperti Arfan mengungkapkan perasaannya. Aisyah senang melihat sahabatnya bahagia. Suatu ketika, Maira pernah berkata pada Aisyah bahwa dia tidak ingin lagi  dengan Arfan. Maira saat itu bimbang sekali karena dia takut bahwa rasa suka yang mulai tumbuh pada Arfan akan menjadi dosa baginya dan bukan pahala. Aisyah menasihati Maira dengan memberi contoh masalah yang sama. Akhirnya dengan kesabaran hati Maira memutuskan untuk menjalani terlebih dahulu dengan Arfan. Dia tidak tau akan seperti apa ke depannya yang terpenting mengalir seperti biasanya. Setiap kali ada masalah dengan Arfan, Maira selalu bercerita kepada Aisyah. Aisyah memberi saran dan mencoba bicara dengan Arfan.

Suatu ketika, Aisyah berkata pada Maira.

“Ra, bagaimana perasaanmu saat melihat kedekatanku dengan Arfan?” tanya Aisyah.

“Maksudnya gimana ya, Syah?”

“Ya, kamu gak cemburu gitu waktu lihat aku sering dekat dengn Arfan?”

“Ya ngapain aku bersikap gitu. Ya Allah Syah, gak mungkinlah kan kamu sohibnya Arfan.”

“Beneran nih?”

“Bohongan,” mencoba melawak.

Sambil dipeluknya Maira, “Makasih, Ra.”

“Iya, sama-sama.”

Sejak saat itu, Aisyah dan Maira bersahabat baik. Memang kedekatan Arfan dan Aisyah melebihi dekatnya Arfan dan Maira. Tapi, Maira tidak masalah dengan hal itu sebab mereka sahabat. Sahabat bisa lebih dekat dan bebas melakukan apa saja daripada orang yang disukai.

***

Hari demi hari berlalu, minggu demi minggu berlalu dan bulan demi bulan pun berlalu. Arfan dan Maira bahagia dengan kedekatan mereka. Tapi, setiap kali Maira sholat dia selalu berdoa. Apakah Arfan memang yang terbaik? Maira sangat takut kalau cintanya pada Arfan bukan menjadi pahala melainkan dosa.

Pagi yang cerah disambut senyuman sang mentari. Kicau burung terdengar menemani. Di kelas, Arfan dan Maira sudah datang mereka sibuk dengan pekerjaan dan tugas masing-masing. Sekarang hari Senin, jadi pulang sekolah Arfan harus eskul dulu. Dia adalah kapten eskul basket di SMA LENTERA PUTIH. Waktu itu jam pulang sekolah, tapi Arfan masih di kelas ngobrol dengan Maira. Maira hendak menanyakan sesuatu.

“Fan,” panggil Maira.

“Iya, Ra.”

Entah mengapa hati Maira serasa digelitiki, degup jantungnya berdetak dua kali lebih kencang. Maira mulai mengatur napasnya sebelum bertanya.

“Selama ini apa kamu bahagia dekat denganku?” tanya Maira.

Arfan mengerutkan keningnya.

“Kenapa kamu bertanya gitu, Ra?”

“Iya, aku cuma pengen tau aja.”

“Ya tentunya bahagialah, Ra. Emangnya kamu gak bahagia?” Arfan balik bertanya.

“Gak J,” mencoba melawak. “ Bahagia juga kok, Fan.”

Keduanya saling tersenyum, manis sekali senyum mereka. Terlihat Arfan sedang memegang dadanya.

“Apa yg terjadi dengan Arfan?” batin Maira.

“Ada apa Fan? Kamu sakit ya?”

Arfan malah tersenyum mendengar pertanyaan Maira kemudian menjawab, “Iya, Ra. Hatiku sakit karena terlalu dekat denganmu. Tak kuat aku menahannya apalagi saat melihat senyum manismu,” ucap Arfan sambil tersenyum.

Seketika pipi Maira merah merona, dia tersipu malu dengan tingkah Arfan yang membuatnya ingin memukul Arfan. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul 15.15, Arfan harus turun untuk eskul.

“Ya udah aku turun dulu ya,” ucap Arfan.

Maira mengangguk tanda ia mempersilakan Arfan turun. Tapi, Arfan tak kunjung beranjak dari tempat duduk. Tak tega rasanya hati meninggalkan Maira. Jangankan sehari, 15 menit tak bertemu Maira seakan Arfan kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya. Tak kuasa ia menahan rindu pada Maira. Akhirnya, Arfan memutuskan untuk turun walau berat hati melakukannya. Saat Arfan berdiri, Maira memberikan seulas senyum tanda semangat untuk Arfan.

***

Hari ini cukup melelagkan bagi Maira. Malamnya dia ditemani tugas yang selalu menanti dengan setia. Terdengar bunyi ponsel bergetar, dilihatnya ada pesan dari Arfan

Arfan

  • Ra
  • Lagi ngapain?
  • Lagi belajar ya?

Humaira

  • Iya, Fan.
  • Kamu sendiri lagi ngapain?

Arfan

  • Lagi mikir, Ra.

Humaira

  • Mikir apa Fan?

Arfan

  • Mikirin masa depan kita nanti Ra. J

Humaira

  • Hmm,,,kebiasaan kamu Fan.

Arfan

  • Iya Ra beneran.

Humaira

  • ˄_˄
  • Aku lanjut belajar dulu ya.

Arfan

  • Yah…..

Humaira

  • ?

Arfan

  • Enggak, lanjut aja. :v
  • Semangat Maira J

Maira kembali melanjutkan belajarnya.

***

Esok harinya, Maira datang terlebih dahulu. Tapi Arfan belum datang dan ternyata dia terlambat. Saat masuk kelas wajah Arfan terlihat badmood. Memangselama ini, meskipun keduanya saling menyukai mereka tak pernah begitu akrab dekat pun mereka sangat jarang. Semakin hari perasaan Maira semakin berubah, bukannya dia tak suka pada Arfan tapi lebih menjaga jarak lagi. Arfan juga merasakan sikap Maira yang tak biasa.

Hari demi hari, mereka terlihat saling menjauh. Meskipun saat berkomunikasi sangat akrab. Tapi, sebenarnya tidak seperti itu entah mengapa badai selalu menghampiri hubungan mereka. Aisyah sebagai sahabat keduanya juga mulai heran dan bertanya pada Maira.

Dengan wajah curiga Aisyah bertanya, “Ra, kamu ada masalah ya sama Arfan?”

“Tidak kok, Syah. Emang kenapa?” jawab Maira.

“Tapi kalian terlihat saling menjauh, gak mungkin kalo gak ada masalah.”

“Beneran Syah. Kita gak bertengkar kok juga gak ada masalah. Fine fine aja.”

Aisyah menaikkan sebelah alisnya, “Yang bener kamu?”

“Iya Aisyah.”

“Awas ya, kalo sampek ada masalah kalian gak cerita sama aku,” tegas Aisyah.

“Siap bu,” ucap Maira sambil tersenyum.

Memang akhir-akhir ini Maira merasa Arfan sikapnya berubah. Dia semakin jauh dengan Arfan. Entah apa yang membuat keduanya tidak akrab lagi.

***

Sore hari, saat hujan deras mengguyur sekolah. Arfan di dalam kelas duduk sendirian, sedangkan Maira baru saja masuk kelas untuk mengambil ponselnya. Lalu Maira menghampiri Arfan hendak bertanya.

“Fan, boleh aku bertanya sesuatu?” ucap Maira.

“Iya, duduk sini Ra.”

Maira beranjak duduk di sebelah Arfan. Akhir ini Arfan memang sangat dekat dengan salah satu sahabatnya yang bernama Viola. Viola juga sahabat baiknya Aisyah, mereka bertiga bersahabat. Tapi, jika dilihat kenapa Arfan bisa sedekat itu dengan Viola daripada dengan Maira?

“Ahhh, sudahlah mereka hanya bersahabat. Tidak tau kalo lebih, tapi aku percaya Arfan kok,” batin Maira. Dia berusaha husnudzon dengan keduanya. Setelah duduk Maira mulai berbicara dengan Arfan.

“Fan, sebenarnya aku tidak suka dengan keadaan ini. Aku juga takut dosa jika rasa sukaku tak bisa kukendalikan,” ucap Maira.

Arfan bungkam sejenak kemudian berbicara, “Gimana ya, Ra? Aku sebenarnya juga mau bilang kalau kakakku sudah tau tentang kedekatan kita tapi, dia menasihati agar aku fokus sekolah dulu.”

Mendengar ucapan Arfan seakan hati Maira tersayat sembilu. Perih tapi tak berdarah. Mata Maira sudah panas, seakan air mata itu tak sabar diri untuk keluar. Ia menahannya dengan tersenyum.

“Iya Fan. Aku paham kok apa maksud kamu. Kalau memang itu yang terbaik kamu harus turuti apa kata kakakmu. Sebab yang menurutmu baik belum tentu baik dan yang menurut kakakmulah bisa jadi yang terbaik,” ucap Maira, meski dalam hati Maira seakan dia menjerit tanpa ada yang bisa mendengar jeritannya.

“Jangan sedih gitu a Ra,” pinta Arfan dengan wajah yang polos.

“Aku gak sedih kok Fan, mulai sekarang kamu harus bisa menghilangkan rasa itu. Semua akan biasa seiring berjalannya waktu.”

“Gak, Ra. Gak akan bisa, jangan sedih gitu Ra aku jadi gak tega,” ucap Arfan dengan wajah yang lesu.

Maira berusaha tersenyum walau air mata itu memaksa keluar, “Aku baik-baik saja, Fan.”

“Ayo ke kantin Ra.”

Maira menggeleng, “Kamu saja yang ke kantin aku gak lapar.”

“Oke aku ke kantin dulu,” sembari meninggalkan Maira.

Saat Arfan beranjak berdiri dan keluar kelas, pecah sudah tangis Maira. Air mata yang tadinya dibendung kuat kini mengalir deras tak tertahan. Dalam hati Maira, ia berdoa.

Ya Allah, inikah jawaban atas doaku selama ini. Jika memang ini yang terbaik hamba-Mu ikhlas ya Allah. Berilah aku keteguhan hati, kelapangan maaf dan kesabaran yang lebih. Hanya kepada-Mu ya Rabb hamba meminta pertolongan.

Kemudian Maira memanggil Fatimah, sahabat baiknya. Ia menceritakan semua pada Fatimah apa yang baru saja dikatakan Arfan padanya. Maira tak kunjung berhenti menangis, saat Fatimah memberi nasihat tangis Maira semakin tak terbendung air mata mengalir deras membasahi pipi. Namun, Maira masih tersenyum di saat hatinya rapuh dan mata yang sembab. Sungguh wanita yang tangguh, Maira. Arfan kembali dari kantin, saat melihat Maira habis menangis dia terkejut. Dia berpikir apa karena ucapannya tadi yang membuat Maira menangis.

“Ra, kenapa menangis?” tanya Arfan. “Apa karena ucapanku tadi?”

Maira menyunggingkan seulas senyum di bibirnya untuk menutupi kesedihan hatinya. “Tak apa Fan. Aku baik-baik saja, sudah aku mau pulang dulu.”

Cegah Arfan di depan Maira, “Kalaua ditanya jawabnya karena bukan tak apa.”

Maira tetap berkata, “Aku baik-baik saja, Fan.” Sembari meninggalkan Arfan.

***

Setelah sholat isya’ Maira membuka HP-nya, dilihat banyak pesan dari Arfan.

Arfan

  • Ra.
  • Kenapa kamu tadi menangis?
  • Pasti karena ucapanku tadi ya?
  • Aku menyesal Ra bercerita sama kamu.
  • Aku tidak suka dengan keadaan yang sekarang.
  • Kamu nanti menjauh dariku, Ra.
  • Ra.
  • Humaira.

Humaira

  • Enggak kok, Fan.
  • Aku baik. Tadi aku menangis cuma karena aku sudah mendapat jawaban dari doaku.
  • Sekarang yang terpenting kamu harus menuruti apa kata kakakmu, Fan.
  • Semua akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu.

Arfan

  • Gak Ra.
  • Kamu gak bisa gitu.
  • Aku ingin kita tetap seperti biasanya.
  • Aku ingin berkomitmen denganmu Humaira.

Humaira

  • Iya, Fan aku tau.

Selepas membaca pesan Arfan, Maira menangis tak kuat menahan apa yang tiba-tiba terjadi padanya. Dia tak tau harus berkata dan berbuat apa besok saat bertemu Arfan. “Ya Allah, tabahkanlah hamba-Mu ini,” batin Maira.

***

Keesokan harinya, Maira datang terlebih dahulu. Saat bertemu Arfan dia menundukkan pandangannya, meski saat itu jantung Maira kembali berdetak kencang. Terlihat hubungan keduanya semakin jauh. Tapi, di sisi lain Arfan menjadi sangat dekat dengan Viola. Sebenarnya sudah dari dulu Maira tau kalau mereka sangat dekat tapi Maira memilih untuk tidak bersu’udzon pada Viola sebab ia sahabat baik Arfan. Entah mengapa hati Maira seakan disayat 1001 penyayat ketika melihat mereka bersama. Humaira berperang dengan dirinya sendiri, berusaha ia mengendalikan jalan pikiran dan hatinya. Sejak saat itu Arfan dan Maira jarang berbicara tak seperti sebelumnya. Padahal, Humaira masih suka sama Arfan dan ia tau bahwa Arfan masih suka padanya. Waktu tak mengijinkan untuk keduanya bersama.

Hari berikutnya, Maira sudah sedikit membaik. Meski luka dalam hatinya masih basah akibat goresan tajam. Dia selalu tersenyum setiap kali ditanya oleh sahabatnya entah itu Fatimah, Aisyah bahkan Viola. Di kelaspun, dia melihat kedekatan antara Arfan dan Viola tapi hati Maira sudah ikhlas walaupun Arfan tak pernah tau seberapa besar dan seberapa kuat dia berjuang untuk perang melawan perasaanya sendiri. Tak mudah untuk dilakukan dan tak mudah untuk diucapkan. Satu kata yang sangat membekas di hati Maira “Semua akan baik-baik saja dan biasa seiring berjalannya waktu”. Jika dia mengingat kalimat itu, tak terasa pipi panas oleh derai air mata. Tapi, satu yang membuat Maira tetap bertahan dengan perasaanya yakni keyakinan yang diberikan pada Arfan. Setiap kali Arfan memandang Maira, dengan sigap ia menundukkan kepalanya takut akan bergetar hatinya setelah sekian kalinya. Sungguh cinta mengubah segalanya. Ini cinta pertama yang dialami Humaira di masa putih abu-abu. Maira bukanlah tipe orang yang pendendam, dia berusaha memaafkan siapapun yang pernah menyakitinya. Selepas sholat maghrib Maira berdoa.

Ya Rabb, ampunilah dosaku ini. Atas segala yang telah kulakukan, mungkin ini balasan yang terbaik Engkau berikan padaku. Tapi, hamba-Mu ini tak pernah ingin melakukan ini. Cinta yang Engkau berikan akan menjadi cinta yang lillah bagi hamba. Hamba mencintai Arfan karena-Mu ya Rabb. Tak sekalipun ingin menjauh darinya, begitu pun Arfan mungkin dia tak pernah menginginkan keadaan ini ya Rabb. Jika ini memang yang terbaik untuk kami berdua jagalah selalu Arfan, bimbinglah dia di jalan-Mu, bahagiakan selalu dia dan semoga suatu saat kami bisa dipertemukan kembali ya Rabb.

Derai air mata membasahi pipi Humaira. Entah apa yang harus ia lakukan untuk melawan hawa nafsunya ini. Tapi, setelah sholat dia beranjak mengambil ponselnya.

Lalu….

Humaira

  • Arfan.
  • Aku minta maaf atas kesalahanku selama ini.
  • Aku tak ingin tali silaturahim antara aku denganmu terputus.
  • Semoga kita tetap menjadi teman dan sahabat sampai syurga-Nya.
  • Terima kasih atas waktu kebersamaan denganmu selama ini. J

5 menit kemudian.

Arfan

  • Iya,Ra.
  • Sama-sama, Ra. Aku juga minta maaf salahku banyak sama kamu.
  • Aku juga gak mau tali silaturahim kita putus.
  • Aamiin. J

Sejak saat itu berangsur-angsur hubungan mereka mulai sedikit membaik. Meski saling berjauhan, cinta di antaranya masih ada. Humaira masih merasakan itu, dia ikhlas menjalani apapun keadaannya sekarang. Sebab ini adalah terbaik yang diberikan Allah padanya.

~*~

Share this post

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print
Share on email

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Close Menu