Hari Kemerdekaan: Totalitas menjadi Uswah

“Jika kalian tidak bisa menjadi yang terbaik, setidaknya jangan menjadi barisan perusak,” tutur Gilang Agung Prabowo, S.H., pembina Paskibra SMANAS, sebelum upacara dimulai. Seluruh siswa SMANAS dengan gegap gempita mengikuti upacara Kemerdekaan beserta seluruh petugas pengibar bendera dengan berdiri penuh semangat. Upacara yang dilaksanakan tepat pada Sabtu (17/8) juga diikuti secara khidmat oleh seluruh siswa, staf, bapak ibu guru, dan karyawan SMANAS. Bunyi sirine detik-detik proklamasi juga membuat suasana semakin khidmat dan mengharukan diikuti dengan pembacaan teks proklamasi oleh Bapak Kepala SMA Nasional Malang.

Ketika pengibaran bendera merah putih, anggota Paskibra tampil dengan maksimal. Dengan seragam putih-putih, mereka berbaris rapi. Suara hentakan kaki beradu dengan tanah yang harmonis menyelimuti upacara, menambah kekhidmatan upacara. Dengan jiwa nasionalisme tinggi, mereka membentuk formasi-formasi yang telah ditentukan. Pengibaran merah putih berjalan lancar.

Ucapan terima kasih dan apresiasi tinggi disampaikan oleh Drs. Rusdi, M.Si. yang bertindak sebagai pembina upacara. Beliau berterima kasih pada bapak dan ibu guru, para siswa, pengurus OSIS, terutama seluruh anggota Paskibra karena sudah tampil sangat baik. Beliau juga mengapresiasi para guru yang dengan total mau mengikuti para siswa. “Ini sesuai dengan perintah Rasul, bukan hanya menyuruh, tapi memberi contoh,” terang Pak Rusdi. Kepala SMANAS tersebut mengaku tertawa, tapi dalam hatinya terharu. Dengan demikian, Pak Rusdi semakin yakin bahwa jika diajar oleh guru yang demikian total, seluruh siswa SMANAS pasti bisa sukses dunia-akhirat.

Selanjutnya, beliau juga menerangkan bahwa para pahlawan terdahulu pasti akan tersenyum seandainya melihat perjuangan para guru dan siswa yang totalitas seperti sekarang. Beliau berharap, semuanya dapat melakukan kebaikan yang dimulai dari diri sendiri.

Pak Rusdi juga menegaskan, para founding father mendirikan negeri dan membuat bendera merah putih memiliki tujuan. “Agar rakyat Indonesia harus memiliki jiwa yang merah, jiwa yang semangat dan memiliki target tinggi,” kata Pak Rusdi. “Saya tidak ingin siswa SMANAS mudah mengeluh, gagal satu kali sudah mengeluh,” tambahnya. Menurut Pak Rusdi, kita tidak tahu kapan Allah menakdirkan kita sukses. “Bisa jadi kita suskes di langkah kedua belas, ketiga belas, bahkan langkah-langkah berikutnya,” tegasnya.

Selain itu, jiwa semangat yang merah itu harus diiringi dengan kesucian hati yang dilambagkan warna putih. “Jika kalian masih memiliki hati yang kotor, merasa lebih baik dari orang lain, merasa lebih hebat dari orang lain, maka jangan harap kalian akan sukses,” pesan Pak Rusdi pada peserta upacara.

Usai upacara, para siswa berfoto-foto. Selain itu, pengumuman juara-juara lomba oleh pengurus OSIS dan penyerahan hadiah. Ada pula penampilan menyanyi dan stand up komedi juara I.

Sebagai mahasiswa KPL, Bu Nia mengaku senang berada di SMANAS. “Semua dilibatkan dalam semua acara, bahkan kami juga diikutkan, jadi saya senang,” ungkap pengajar Bahasa Inggris tersebut. Sejalan dengan Bu Nia, Pak Fikrul juga berpendapat demikian.Pak Fikrul mengaku terkesan dapat merasakan dan meresapi kekhidmatan upacara kemerdekaan Indonesia. “Acara 17 Agustus di SMA Nasional sangat khidmat,” tutur mahasiswa PKL dari UIN Maliki Malang itu. “Hal itu didukung oleh Paskibra yang sangat terlatih,” tambahnya. menurut mahasiswa Psikologi itu, pembinaan yang disampaikan oleh Pak Rusdi sanat mengena. “Itu dapat membangun kesadaran diri kita dalam berbangsa dan bernegara,” tuturnya. (bya)

Share this post

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print
Share on email

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Close Menu