SMA Islam Lumajang Gandeng SMANAS Malang untuk Raih Mimpi Besar

“Barang siapa yang silaturrahmi akan mendapat rezeki,” tutur Drs. Rusdi, M.Si. dalam sambutan acara studi banding SMA Islam Lumajang. Beliau juga berdoa, semoga kehadiran SMA Islam Lumajang ke SMANAS menambah rezeki untuk kedua belah pihak. Rombongan pendidik dan yayasan SMA Islam Lumajang tersebut tiba di SMANAS pada Rabu (10/7) pagi. Bersama dewan guru SMANAS, mereka berkumpul di aula. Acara dibuka, kemudian hadirin menyanyikan Indonesia Raya, Bagimu Negeri, dan Mars SMANAS.

Selain mengungkapkan harapan, Pak Rusdi menyambut rombongan SMA Islam Lumajang dengan memperkenalkan keluarga besar SMANAS satu per satu. Gelak tawa hadirin sesekali muncul ketika Pak Rusdi memperkenalkan guru sembari memberi candaan. Selain itu, Pak Rusdi tak henti mengucapkan terima kasih atas kehadiran SMA Islam Lumajang.

“Saya tidak mengira kalau sambutan dari SMA Nasional akan sangat meriah. Kami merasa bangga dan terhormat,” ungkap Drs. Sarnam Siregar. Kepala SMA Islam Lumajang tersebut menjelaskan bahwa beliau merasa kecil ketika judul acaranya studi banding. “SMA Islam Lumajang tidak ada sepertiganya,” ungkap Pak Sarnam. Pak Sarnam membenarkan pendapat Pak Rusdi tentang kondisi sekolah swasta. Beliau juga memaparkan kondisi SMA Islam Lumajang beserta beragam konfliknya yang berstatus sekolah swasta di sana.

Pak Sarnam menjelaskan, meskipun kondisi demikian, SMA Islam Lumajang tetap semangat. “Kami jemput bola, mencari anak-anak yang belum sekolah,” tuturnya. Kadang, usaha tersebut terhambat dengan jarak rumah yang jauh dari sekolah.“Anak sekarang banyak yang kurang semangat, sering sambat,” tambah beliau. Pak Sarnam berharap, kedatangannya bersama  rombongan dapat menambah semangat ketika kembali. Tak mau kalah, Pak Sarnam juga memperkenalkan guru-guru SMA Islam Lumajang.

Acara berikutnya yaitu sekapur sirih yang dipimpin Kepala SMANAS. “Kita bukan membandingkan, tetapi sharing,” kata Pak Rusdi. Beliau juga mengatakan, karena selemah-lemahnya seseorang, pasti punya kelebihan dan selebih-lebihnya orang, pasti punya kekurangan. “Sekolah kami juga pernah sekarat,” tambahnya.

Pak Rusdi menjelaskan perjalanan SMANAS mulai awal ketika hampir ditutup dengan jumlah siswa hanya 14. Beliau juga menjelaskan kisah ketika awal masa kepemimpinan dengan tentangan dari berbagai pihak atas peraturan ekstrem yang beliau berlakukan. Juga perjalanan Pak Rusdi ketika belajar selama satu bulan ke beberapa sekolah di Malang, Semarang, bahkan Jakarta, sebelum beliau menjabat kepala sekolah. Pak Rusdi menjelaskan segala hambatan yang pernah dihadapi dan semua perjalanan SMANAS dapat meraih berbagai prestasi hingga sekarang. “Kuncinya adalah yakin bahwa kita pasti sukses,” tegasnya. “Sebab, hal yang besar itu berawal dari yang kecil,” tuturnya.

Setelah sekapur sirih, acara ditutup dan dilanjutkan dengan ramah tamah. Di sela-sela itu, perwakilan dari SMA Islam Lumajang turut menyumbangkan lagu sehingga menambah keakraban dengan keluarga besar SMANAS.

Sebelum pamit, Bapak H. Achmad Chudhori menyampaikan banyak terima kasih atas sambutan yang luar biasa. “Terima kasih karena SMA Nasional sangat welcome dan kami bias menarik pelajaran yang sangat luar biasa atas perjuangan dan dedikasi dalam dunia pendidikan,” ungkap ketua yayasan SMA Islam Lumajang tersebut. Beliau juga mengundang keluarga SMANAS untuk silaturrahmi ke Lumajang.

Hal serupa disampaikan oleh Bu Citra Dianawati. “Rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata,” tutur guru Matematika tersebut. Beliau berharap semoga ilmu yang diperoleh hari ini bermanfaat dan dapat diterapkan di SMA Islam Lumajang. “Semoga barokah semua,” tambah guru yang merangkap Kurikulum itu.

Drs. Jari Hariono turut menyambut baik kunjungan SMA Islam Lumajang. “Kita merasa malu karena disanjung atas prestasi kita,” ungkap guru PKn tersebut. Pak Jari berharap, mudah-mudahan SMANAS ke depan bisa mempertahankan prestasinya bahkan meningkatkan lagi. (bya)

Share this post

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print
Share on email

Berita Terkait

This Post Has 2 Comments

  1. Memang betul belajar sepanjang hayat, walaupun sampai ke negeri cina.
    Menuntut ilmu tidak ada batas usia, dimanapun kita berada. Menuntut ilmu hukumnya wajib

    Sukses buat smanas malang

    1. aamiin.. mari belajar bersama

Tinggalkan Balasan

Close Menu
%d blogger menyukai ini: