Pembinaan Yayasan P2PUTN Malang kepada Guru dan Karyawan SMA Nasional Malang

Jajaran pimpinan, guru, dan karyawan SMA Nasional Malang (SMANAS) berkumpul di aula SMA Nasional Malang untuk menyambut pengurus yayasan. Ibu kandung SMANAS, yaitu Yayasan Perkumpulan Pengelola Pendidikan Umum dan Teknologi Nasional (P2PUTN) berkunjung ke SMANAS untuk memberikan pembinaan. Pengurus yayasan P2PUTN Malang yang hadir yaitu Ir. Kartiko Ardi Widodo, M.T., Drs. H. Harnadi Iswandi, S.Pd., M.Si., Dra. Herawati Ekorini, dan Lenni Saragih, S.Km., M.Kes.

Acara yang dilakukan pada Senin (3/8) itu juga diikuti oleh mahasiswa Kajian Praktik Lapangan (KPL) dari Universitas Negeri Malang (UM). Acara dibuka dengan menyanyikan Indonesia Raya dan Mars SMANAS. Lalu, Drs. Rusdi, M.Si. memulai dengan perkenalan yang mengacu pada pentingnya tata kelola yang telah disampaikan Bapak Kartiko tahun lalu. Pak Rusdi menjelaskan, kurikulum yang digunakan di SMANAS tidak boleh menjiplak sekolah lain. “Saya tidak berharap semua siswa ahli dalam semua mata pelajaran,” ungkap beliau. Kepala SMA Nasional Malang tersebut menjelaskan bahwa setiap anak dilahirkan dengan fitrahnya masing-masing. “Pasti semua siswa punya keahlian tertentu. Ini substansi kurikulum kami,” terangnya. Pak Rusdi juga menjelaskan bahwa filosofinya, hanya ada satu pemenang sehingga harus beda. “Jadilah pembeda yang konstruktif,” tutur beliau.

Selain menjelaskan bidang kurikulum, Pak Rusdi juga menjelaskan konsep kesiswaan dan tata tertib siswa di SMANAS bahwa guru tidak boleh marah pada siswa. Beliau menganalogikan agar guru di SMANAS menggunakan paku yang lunak untuk mengubah hati. Sebelum mengakhiri sambutannya, beliau berpesan kepada guru-guru SMANAS agar jangan mencontoh dan jangan berbuat seperti kebanyakan karena tidak akan jadi pemenang. “Jadilah diri sendiri, turunlah ke grassroot dan lihat apa yang diharapkan,” ungkap beliau menutup sambutan.

Usai sambutan kepala sekolah, Pak Kartiko selaku ketua yayasan P2PUTN memberikan pembinaan. “Terima kasih kepada civitas academica SMA Nasional Malang atas dedikasinya sehingga mendapat banyak prestasi,” tutur Pak Kartiko. Pembinaan beliau mulai dengan sebuah pernyataan bahwa suatu pekerjaan atau mimpi besar tidak harus diikuti dengan biaya yang besar. Namun, yang terpenting adalah cara untuk mewujudkan mimpi besar tersebut. “Cara untuk mewujudkan pekerjaan besar tersebut adalah ketekunan, kegigihan, dan kerja cerdas,” ungkap laki-laki kelahiran 27 Juli tersebut.

Pak Kartiko mengajak hadirin untuk mengingat kembali bahwa lahirnya SMA Nasional Malang pada 1 Juni 1983 itu bukan tanpa maksud. Tanggal lahir yang sama dengan lahirnya Pancasila membawa cita-cita agar generasi penerus dapat berjiwa dan berkarakter nasional. Laki-laki alumnus Magister Institut Teknologi 10 November Surabaya ini berharap agar SMANAS dapat mencetak generasi tangguh yang mampu menghadapi tantangan. “Pendidikan bukan hanya sekadar membuat bisa, tapi harus membuat generasi tangguh,” ujar Pak Kartiko. “Maka, butuh pendidikan karakter nasional yang cinta pada negara dan etika serta sopan santun,” tambah beliau. Pak Kartiko menegaskan, etika dan sopan santun peserta didik dapat terbentuk dari melihat contoh. “Jadi, harapan kami, kita pendidik dapat bertingkah laku yang baik. Apa pun fungsi kita, kita kerjakan sebaik mungkin, niati ibadah,” pesan Pak Kartiko.

Dalam masa pandemi, beliau menegaskan agar SMANAS tetap mematuhi protap yang ditentukan pemerintah. Selain itu, beliau berharap, meski dihadapkan dengan pandemi, SMANAS tetap memberikan pelayanan yang baik. “Proses pembelajaran tetap harus memberikan timbal balik dan harus ada interaksi dari siswa sehingga terjalin komunikasi dua arah. Tidak hanya itu, Pak Kartiko berharap agar SMANAS dapat meningkatkan kerja sama internal sesuai dengan tupoksi masing-masing. Beliau juga menjelaskan lima pilar tata kelola dan implementasinya, meliputi tata kelola keuangan, sumber daya manusia, aset, kurikulum, dan IT.

Tidak hanya Pak Kartiko, Pak Harnadi juga memberikan pembinaan. Wakil ketua pengurus yayasan tersebut menekankan pada keluarga besar SMANAS tentang pentingnya kekeluargaan. “SMA Nasional Malang memiliki saudara, yaitu SMK Nasional; memiliki adik, yaitu SMP Nasional; memiliki kakak, yaitu ITN Malang; dan memiliki ibu kandung serta ibu tiri yang hubungan kekeluargaannya harus dijaga,” terang Pak Harnadi. Selain kebersamaan dan kerja sama, alumnus Magister Kebijakan Publik tersebut menegaskan pentingnya tiga pola komunikasi, yaitu konsultasi, koordinasi, dan komunikasi.  “Tiga hal tersebut harus dijalin secara seimbang,” ujar beliau.

Pembinaan berikutnya disampaikan oleh Bu Hera. Sekretaris pengurus P2PUTN tersebut mengajak keluarga SMANAS berbangga karena memiliki kepala sekolah yang tidak hanya disiplin dan tekun, tapi juga romantis sehingga selalu ada kejutan. “Jadi dapat disimpulkan kalau kepala sekolah tidak harus otoriter,” tutur beliau. Secara pribadi dan mewakili pengurus yayasan, Bu Hera mengucapkan terima kasih karena SMANAS masih dipercaya masyakarat meski di tengah pandemi. Beliau juga mengapresiasi kerja keras bersama yang telah dilaksanakan keluarga SMANAS dan P2PUTN Malang. Di sisi lain, Bu Hera sangat mendukung pola hubungan yang disampaikan Pak Harnadi. “Pola-pola hubungan tersebut harus ditingkatkan di SMA Nasional,” tegas Bu Hera.

Bu Lenni selaku pengawas SMA Nasional Malang dari P2PUTN Malang turut memberikan pembinaan. Sebagai pembicara terakhir, Bu Lenni lebih fokus mengapresiasi tim tata tertib siswa. “Manusia itu holistik, unik, biopsikososiokultural sehingga manusia itu berbeda,” ujar alumnus Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga tersebut. Menurut Bu Lenni, dengan sifat-sifat tersebut, bahkan seseorang dapat berubah-ubah dalam kondisi yang berbeda. Beliau berterima kasih karena SMANAS, khususnya tim tata tertib siswa menerapkan kebijakan yang tepat. Selain itu, Bu Lenni menegaskan bahwa IQ saja tidak cukup. “IQ harus diimbangi dengan soft skill yang teruji dan terpuji,” terang beliau. Menurut Bu Lenni, agar siswa berhasil menghadapi tantangan, dibutuhkan kolaborasi antara IQ (Intelligence Quotient), EQ (Emotional Quotient), dan SQ (Spiritual Quotient).

Usai pembinaan dari pengurus yayasan P2PUTN yang hadir, acara ditutup dengan doa. Setelah itu, guru dan karyawan SMANAS memberikan kejutan kepada Pak Kartiko yang baru berulang tahun. “Terima kasih, di usia yang segini, mengingatkan kami untuk selalu mendekatkan diri pada Sang Pencipta dan berusaha semaksimal mungkin untuk lingkungan. Mari kita berjuang bersama untuk kelangsungan lembaga ini menuju semakin ke puncak,” ungkap Pak Kartiko. (bya)

Share this post

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print
Share on email

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Close Menu