Pelepasan KPL Universitas Negeri Malang Gelombang II 2020: Tak Ada Kata Mantan

“Tidak ada kata mantan KPL, Panjenengan semua adalah bagian penting dari perjalanan kesuksesan SMA Nasional Malang,” tutur Bapak Drs. Rusdi, M.Si.

Sambutan dari Kepala SMANAS tersebut disampaikan dalam acara pelepasan mahasiswa Kajian Praktik Lapangan (KPL) gelombang II Universitas Negeri Malang (UM) tahun 2020. Beliau menyampaikan bahwa kendala kondisi pandemi membuat mahasiswa KPL tahun ini tidak terlalu banyak tatap muka. “Akan tetapi, Alhamdulillah mereka semua bisa akrab dengan siswa beserta bapak ibu guru dan aktif terlibat dalam kegiatan sekolah,” tambah Ketua MKKS se-Kota Malang tersebut. Menurut evaluasi beliau, tidak ada kekurangan yang dilakukan oleh mahasiswa KPL ini. Pak Rusdi menuturkan bahwa seluruh mahasiswa KPL selalu menularkan efek positif dan selalu care kepada SMANAS. “Saya berharap mahasiswa KPL dapat menularkan ilmu ke adik-adik tingkatnya bahwa hidup itu harus bisa adaptasi,” harap Pak Rusdi. Selain itu, beliau juga mempersilakan mahasiswa KPL untuk tetap sering mengunjungi SMANAS bahkan dipersilakan jika ingin meneliti atau mengajar.

Acara yang dilaksanakan di ruang studio prestasi SMANAS tersebut dilanjutkan dengan sambutan hangat dari Abdul Kodir Addakhil, S. Sos., M. Sosio. “Kami sempat merasa bingung dan ragu apakah ada sekolah yang mau menerima mahasiswa KPL dengan kondisi sistem pembelajaran daring, namun saya berterima kasih karena SMA Nasional Malang bersedia untuk membimbing mahasiswa kami,” ungkap dosen Jurusan Sosiologi tersebut.  Beliau juga menyampaikan bahwa terdapat banyak kendala dalam kondisi pandemi seperti ini.  “Salah satunya adalah dalam transforming value yang susah untuk diberikan karena pembelajaran dilaksanakan secara daring. Hal ini tidak hanya terjadi di jenjang SMA, tetapi saya rasakan juga di perguruan tinggi,” tutur dosen pembimbing KPL UM tersebut. Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mengungkapkan permintaan maaf atas missed komunikasi dan missed koordinasi yang mungkin terjadi selama mahasiswa KPL UM belajar di SMANAS.

Bapak Rizqi, salah satu mahasiswa KPL Jurusan Matematika, berhasil menambah riuhnya suasana dalam acara pelepasan pada Senin (02/11) itu. Rangkaian kata-kata yang dibalut dengan retorika penuh makna berhasil membius pandangan seluruh hadirin di acara tersebut. “Bapak dan Ibu, 42 hari yang lalu, di aula SMANAS tepatnya, kami datang untuk memohon izin bergabung menjadi bagian dari sekolah ini, tapi hari ini sudah pamit saja,” tutur mahasiswa asal Ngawi tersebut mengawali sambutan indahnya. Beliau mengucapkan bahwa pada awalnya mungkin memilih SMANAS hanya asal-asalan atau karena tidak ada pilihan lagi. “Tapi ternyata kami menemukan rumah. Rumah yang membuat kami merasa nyaman, betah, dan kerasan di sekolah,” ungkap Pak Rizqi penuh haru. Laki-laki berusia 21 tahun tersebut juga menorehkan harapan besar kepada SMANAS. “Semoga SMANAS tetap menjaga pandangannya untuk mengembangkan pendidikan ke depan,” pungkas beliau.

Acara itu juga dilanjutkan dengan penyerahan kenang-kenangan dan bingkisan dari mahasiswa KPL untuk SMANAS. Selain itu, penyerahan sertifikat mengajar juga diberikan sebagai penutup acara penuh haru tersebut. “Sangat senang bisa diterima untuk belajar mengajar dan mendapatkan pengetahuan lebih di SMANAS,” kesan bahagia disampaikan oleh Bapak Mohammad Rousyan Fikri Qowim. Salah satu mahasiswa Jurusan Sosiologi itu juga menyatakan bahwa kekeluargaan di SMANAS sangatlah kental. “Tidak ada gap antara bapak ibu guru dan mahasiswa KPL. Saya sangat senang ketika bisa sama-sama membaur saat persiapan event sekolah,” tutur laki-laki yang akrab dipanggil Pak Fikri tersebut.

Senada dengan Pak Fikri, Ibu Salwa Nabilah Afifah juga mengaku merasa nyaman di SMANAS. “Guru-guru dan siswa-siswinya juga sangat ramah,” ucap mahasiswi Jurusan Biologi tersebut. Meskipun cukup terkendala dalam hal diskusi ketika pembelajaran daring, mahasiswi yang memiliki hobi menyanyi tersebut menyatakan bahwa siswa SMANAS cukup kooperatif. “Semoga SMANAS semakin maju dan sukses serta terus berprestasi,” ucap Bu Salwa. Beliau juga berharap bahwa seluruh mahasiswa KPL gelombang II dapat menjadi guru yang profesional dan mengajar dengan hati.

Kesan dan harapan juga disampaikan oleh Lilik Rodiana, S.Pd. selaku guru pamong mata pelajaran Fisika. “Mahasiswa KPL UM bisa beradaptasi dengan cepat terhadap situasi di sekolah,” ungkap guru Fisika tersebut. Beliau juga menambahkan bahwa mahasiswa KPL UM ini mau ikut bekerja sama dalam kegiatan sekolah. “Semoga mahasiswa KPL bisa datang langsung ke sekolah untuk ke depannya mengingat salah satu mahasiswa KPL Fisika berhalangan hadir karena pandemi,” harap Bu Lilik tegas.

Di sisi lain, Gilang Agung Prabowo, S.H. menyatakan bahwa mahasiswa KPL sudah memiliki proses belajar mengajar yang sudah matang. “Mereka juga sudah berperilaku baik dan bisa menjalin hubungan emosional dengan peserta didik,” tutur guru Sosiologi tersebut. Selain itu, Pak Gilang mengaku bahwa mahasiswa KPL benar-benar memiliki totalitas dan loyalitas yang tinggi terhadap sekolah. “Saya berharap beliau-beliau semua menjadi guru yang tidak hanya transfer ilmu ke siswa, tapi juga dapat membentuk karakter,” ucap Pak Gilang penuh harap.

Di sisi lain, kesan positif dan perasaan sedih juga dirasakan oleh para siswa. Tidak hanya dari mahasiswa KPL, banyak pula di antara siswa yang tidak ingin KPL segera pergi. “Sangat seru diajar guru KPL, ilmunya sangat masuk dan beliau dengan jelas menjelaskan suatu pelajaran, dan sangat sabar mengajar kami,” tutur Siswan Rika Mei Ardina. Siswa X IPS 2 tersebut berharap, guru-guru KPL tetap bersemangat menjalani hidupnya ke depan dan tidak mudah putus asa. Harapan baik juga turut diutarakan oleh Susilowati. Dia berharap, bapak ibu guru KPL bisa lebih baik dari sebelumnya. “Itu sudah pasti. Doa kami untuk Bapak Ibu KPL semoga ke depan selalu dilancarkan semua urusannya dalam meraih apa pun yang dicita-citakan,” ungkapnya. Menurut Susi, meskipun hanya pertemuan singkat dan belum pernah merasakan diajar di kelas, tapi semua kenangan yang sudah diukir bersama di SMANAS begitu berarti. “Stay the greatest with all humility. Thank you for all the memories and knowledge that has been given,” ungkap siswa XII Saintek A tersebut. (hm/bya)

Share this post

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print
Share on email

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Close Menu