Siswa Kelas XII Lulus 100%

Beragam Cerita di Balik Kelulusan 100% Siswa SMA Nasional Malang

Pengumuman kelulusan merupakan hal yang pasti sudah ditunggu-tunggu oleh ribuan siswa kelas XII di seluruh Indonesia, tak terkecuali siswa-siswi SMA Nasional Malang. Pada Sabtu (2/5) Drs. Rusdi, M.Si. secara resmi mengumumkan bahwa siswa SMA Nasional Malang lulus 100%. Pengumuman tersebut disambut dengan bahagia dan duka oleh para siswa. Banyak di antara mereka yang sedih karena tidak bisa merayakan kelulusan bersama di sekolah. Pandemi Covid-19 membuat para siswa harus berdiam diri di rumah. Mereka bisa melihat pengumuman secara daring yang disampaikan oleh Kepala Sekolah.

Momentum kelulusan ini ditanggapi dengan beragam rasa oleh para siswa. “Alhamdulillah, rasanya campur aduk,” ujar Feri Setiawan. Siswa XII IPA 1 tersebut mengaku bahagia karena bisa lulus dan sudah mencapai titik balik. Bagi Feri, lulus SMA berarti sudah harus siap untuk menempuh hidup tanpa bergantung penuh pada orang tua. “Yang bekerja akan bekerja, yang kuliah akan kuliah,” ujarnya. Feri menuturkan, dia ingin kuliah agar bisa menggapai cita-citanya. Di samping rasa syukur dan bahagianya, siswa alumnus SMPN 1 Wagir itu merasa sedih. Dia menyayangkan keadaan yang membuatnya tidak bisa berbahagia atas kelulusan bersama teman-teman secara langsung. “Kami kelas X sempat berjumpa, kenalan, tapi sekarang lulus tanpa berpamitan, hanya bisa lewat chat WhatsApp,” ungkap Feri.

Perasaan yang sama bahagia juga dirasakan oleh Khoridatul Istiqomah. Siswa XII Bahasa tersebut mengaku senang karena lulus. Khoridatul senang karena sudah resmi menjadi alumni SMANAS. “Sebentar lagi, semoga cita-cita saya tercapai dan bisa masuk perguruan tinggi yang saya inginkan,” tutur alumnus MTs Kepanjen itu.

Selaras dengan Feri dan Khoridatul, Dwi Farhaan juga bersyukur atas pengumuman kelulusan ini. “Ini adalah syukur sebelum melangkah ke tahap berikutnya untuk menjadi orang sukses di masa depan,” ujar Farhaan. Namun, bagi Farhaan, pengumuman kelulusan ini disertai dengan kebingungan. “Pikiran saya juga bingung, mau melagkah ke mana setelah ini?” kata siswa XII IPS 1 itu.

Farhaan menjelaskan, yang dia lakukan apalagi dalam kondisi pandemi ini adalah tetap berusaha. Dia ingin belajar mandiri tanpa selalu meminta pada orang tuanya. “Alhamdulillah saya mengerti tentang listrik, jadi bisa menggantikan pekerjaan ayah saya sebagai tukang instalasi listrik,” tutur Farhaan. Ketika keadaan sudah normal nanti, Farhaan sangat berharap dirinya bisa kerja sambil kuliah.

Selain rasa bahagia dari para siswa, dewan guru pun menyambut pengumuman kelulusan dengan bahagia. “Selamat atas kelulusan anak-anak. Saya doakan yang terbaik untuk kesuksesan kalian,” ungkap Bu Fikriatunnisa’ Ramadhana, S.Pd. Guru bahasa Inggris SMANAS tersebut berharap, meski di tengah pandemi, para siswa tetap bisa berkarya dan memberi manfaat pada keluarga dan sekitar. Bu Fifin menegaskan pada para siswa agar tetap percaya meskipun cerita kelulusan tidak seindah yang diharapkan, pasti Allah sudah mempersiapkan hadiah indah untuk masa depan. “Tetap pegang teguh nilai-nilai karakter yang diajarkan bapak dan ibu guru sebagai bekal kalian di dunia kerja dan perkuliahan,” tutur Wali Kelas XII Bahasa tersebut.

Pak Gilang Agung Prabowo, S.H. pun angkat suara. “Saya ucapkan selamat untuk kelas XII yang telah berjuang bersama selama 3 tahun,” ungkap Pak Gilang. Menurut Wali Kelas XII IPS 2 tersebut, waktu mungkin terasa singkat dan para siswa yang lulus bukan lagi siswa SMANAS. “Satu hal yang pasti, kalian akan selalu di hati kami,” tutur guru Sosiologi tersebut.

Pak Gilang berpesan agar para siswa yang memilih kuliah tetap belajar di mana pun mereka berada. “Belajar bukan masalah di mana tempatnya, tetapi tentang bagaimana cara kalian mengeksplorasi ilmu,” tambah Pak Gilang. Sementara itu, Pak Gilang juga berpesan kepada yang memilih bekerja agar tidak menjadikan materi sebagai tujuan utama. Beliau berharap agar siswanya bekerja dengan tulus dan ikhlas sehingga materi yang akan mengejar mereka. “Pada akhirnya, see you on top. Sampai bertemu di puncak kesuksesan kalian masing-masing,” ujar Pembina Paskib SMANAS tersebut.

Senada dengan Bu Fifin dan Pak Gilang, Bu Evien Hikmawati, S.Pd. juga bersyukur atas kelulusan para siswa. Bu Evien menyadari, teknis pengumuman kelulusan yang seperti ini membuat euforia tidak sesuai dengan yang diinginkan para siswa. “Bahkan wisuda nanti entah bagaimana,” ujar guru Matematika tersebut. Namun, beliau berharap agar pandemi ini segera berlalu dan bisa segera membuat acara untuk para siswa. “Saya juga berharap, semoga kelulusan di jenjang SMA bisa menjadikan mereka pribadi yang lebih baik dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri entah nanti kuliah atau kerja,” kata Bu Evien.

Di sisi lain, Bu Novia Dewi R., S.Si. mengambil sisi lain dari pengumuman melalui daring ini. “Hal ini berdampak positif karena menghindari membentuk kerumunan massa yang disalahgunakan untuk coret-coret dan dilanjutkan pawai yang bisa mengakibatkan macet atau kecelakaan,” ungkap guru Biologi SMANAS tersebut. Namun, secara pribadi, Bu Novi juga berharap agar pandemi segera berakhir sehingga rutinitas wisuda bagi siswa kelas XII bisa diselenggarakan. “Karena wisuda kelas XII bisa jadi wisuda terakhir bagi mereka yang memilih kerja,” tambah Wali Kelas XII IPA 2 tersebut.

Tidak hanya bapak dan ibu guru yang memberi semangat, Feri turut memberi semangat untuk teman-teman seperjuangannya. Ada temannya yang melamar kerja dan langsung diterima. Ada temannya yang berkali-kali melamar kerja, tetapi belum diterima. Ada pula temannya yang sudah lolos SNMPTN, namun ada yang belum bisa lolos dan masih harus mengikuti SBMPTN. “Kita mempunyai jadwal sukses masing-masing,” ujar Feri. Anak bungsu dari empat bersaudara itu menegaskan bahwa masih ada banyak jalan lain untuk menuju sukses. Feri berpesan agar teman-temannya tetap berusaha dan menjaga semangat. “Usaha itu seperti hukum 3 Newton, F aksi = F reaksi,” kata Feri. “Besarnya usaha pasti akan mempengaruhi besarnya kesuksesan,” tambahnya yakin.

Selain itu, Feri juga mengajak teman-temannya untuk tidak melupakan almamaternya. “Tidak ada istilah mantan guru atau mantan murid. Kita bisa sehebat apa pun, itu karena bimbingan bapak dan ibu guru,” ujarnya. Laki-laki kelahiran Ponorogo ini juga berpesan untuk adik-adik kelasnya, bahwa dia sangat yakin, adik-adiknya akan lebih sukses melampaui angkatannya. “Kemampuan kalian rata-rata di atas kami, seperti Sirrul dengan silat-nya, Maret Tika dengan jurnalistik-nya, Susilowati CS dengan Kimia-nya, dan masih banyak kemampuan luar biasa kalian,” papar siswa yang menyukai Fisika ini.

Feri menegaskan, jika adik-adik kelas ingin lebih sukses, maka harus dipersiapkan sejak sekarang. Feri juga senantiasa mendoakan kesuksesan teman seperjuangan dan adik-adik kelasnya. “Kita punya jadwal sukses masing-masing. Gagal itu bukan karena kita tidak lolos masuk perguruan tinggi atau ditolak kerja, tetapi gagal adalah ketika kita berhenti berjuang,” pungkasnya.(hm/bya//ilustrasi oleh ss)

Share this post

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print
Share on email

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Close Menu